Nikel merupakan salah satu logam non-ferrous strategis yang memiliki peran penting dalam industri global, terutama karena ketahanannya terhadap korosi serta sifat mekanik dan kimia yang unggul. Indonesia menempati posisi kunci dalam rantai pasok global nikel dengan total cadangan mencapai mencapai 55 juta ton atau sekitar 42,31% dari total cadangan global yang diperkirakan mencapai 130 juta ton (USGS, 2025), menjadikannya negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia.
Dalam rantai nilai hilirisasi, nikel Indonesia masih banyak diperdagangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari nickel pig iron, ferronickel, nickel sulphate, precursor battery, hingga battery pack (Walaupun sebagaian ada yang sudah tidak diperdagangkan bebas). Data menunjukkan bahwa China menjadi aktor dominan dalam rantai pasok ini. China merupakan importir terbesar bahan baku nickel ore dari Indonesia, sekaligus masuk dalam lima besar negara pengimpor produk nickel sulphate dan precursor battery. Di sisi lain, China juga tercatat sebagai eksportir terbesar produk battery pack ke pasar global.
Sementara itu, produk antara seperti nickel sulphate dan precursor battery masih banyak diekspor ke negara-negara seperti Taipei, Korea Selatan, Belgia (Untuk Nickel Sulphate) dan Amerika Serikat, Britania Raya, Singapura (precursor battery), menandakan bahwa nilai tambah di dalam negeri belum sepenuhnya optimal. Padahal, Indonesia telah menjadi salah satu produsen utama stainless steel dunia dan memiliki potensi besar untuk masuk lebih jauh ke industri baterai kendaraan listrik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan hilirisasi dan pemanfaatan nikel di dalam negeri menjadi kunci strategis untuk meningkatkan nilai tambah, mengurangi ketergantungan impor produk hilir, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai dan kendaraan listrik global.
Referensi Tambahan:
BKPM, 2023, Peta Jalan (Roadmap) Hilirisasi Investasi Strategis
