Editor: Dannys Arif Kusuma
Kajian lintas disiplin menilai aspek teknis, emisi, finansial, dan dampak ekonomi pemanfaatan batu bara kalori rendah pada PLTU Paiton Unit 3 serta Unit 7 dan 8.
Yogyakarta – Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) telah merampungkan kajian mengenai dampak penggunaan batu bara kalori rendah terhadap aspek teknis dan finansial pada PLTU Paiton Unit 3 serta Unit 7 dan 8. Kajian dilaksanakan bersama PT Paiton Energy pada 2025 dan telah diselesaikan sesuai masa pelaksanaan yang disepakati.
Kajian ini disusun untuk memberikan dasar analitis bagi pengambilan keputusan terkait fleksibilitas mutu batu bara. Di tengah dinamika pasokan dan harga bahan bakar, batu bara kalori rendah dapat menjadi alternatif, namun penggunaannya perlu memperhitungkan efisiensi pembangkit, batas peralatan, potensi slagging dan fouling, kinerja sistem pengendalian emisi, serta konsekuensi biaya dan dampak ekonomi yang lebih luas.
Pendekatan lintas disiplin dari lapangan hingga rekomendasi
Pelaksanaan kajian memadukan kunjungan lapangan, observasi kondisi operasi, penelaahan informasi historis dan parameter operasi dari Distributed Control System (DCS), serta simulasi pembakaran dan neraca panas-massa. Tim mengevaluasi sejumlah skenario blending batu bara dengan karakteristik mutu yang berbeda dan menilai pengaruhnya terhadap daya pembangkitan, heat rate, efisiensi, kecenderungan slagging-fouling, serta emisi. Analisis tersebut dilengkapi dengan kajian finansial dan analisis input-output untuk melihat implikasi ekonomi secara menyeluruh.
Kajian dipimpin oleh Ardyanto Fitrady, Ph.D. sebagai tenaga ahli ekonomi sekaligus Ketua Proyek. Tim tenaga ahli PSE UGM melibatkan Prof. Bambang Riyanto L.S., Ph.D. pada bidang keuangan; Ir. Robertus Dhimas Dhewangga Putra, Ph.D. pada bidang pembakaran; Dr. Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno pada bidang emisi karbon; serta Dannys Arif Kusuma, M.Eng. pada bidang mekanika. Proses analisis turut didukung oleh Wenang Suprayogi, M.Sc., Tito Aron Palti Sidabalok, S.T., Iqbal Kautsar, S.E., dan Febryani Nugrahaningsih, S.E. sebagai asisten tenaga ahli sesuai bidang masing-masing.
Mengukur batas teknis dan menjaga keandalan pembangkit
Hasil analisis menunjukkan bahwa batas operasi tidak hanya ditentukan oleh nilai kalor batu bara, tetapi juga oleh konfigurasi dan kapasitas peralatan utama. Evaluasi pada beberapa konfigurasi operasi menunjukkan bahwa penurunan mutu batu bara perlu diimbangi dengan kecukupan kapasitas pulverizer, fan, aliran gas buang, dan peralatan pendukung lainnya. Dengan demikian, pemanfaatan batu bara kalori lebih rendah tetap perlu ditempatkan dalam ruang operasi yang terverifikasi dan tidak melampaui batas desain peralatan.
Dari aspek deposit abu, kajian menunjukkan bahwa fouling menjadi perhatian utama karena berpengaruh terhadap perpindahan panas dan efisiensi. Sejumlah skenario blending memberikan karakteristik yang lebih terkendali, sedangkan kombinasi dengan kecenderungan fouling lebih tinggi memerlukan penguatan sootblowing, inspeksi tube, dan pemantauan heat exchanger. Temuan ini menegaskan pentingnya menentukan komposisi blending berdasarkan karakteristik batu bara dan kondisi aktual unit.
Pengendalian emisi menjadi prasyarat utama
Analisis emisi menegaskan bahwa keandalan Flue Gas Desulfurization (FGD) merupakan faktor penting dalam menjaga emisi sulfur dioksida tetap sesuai persyaratan. Ketika efektivitas sistem pengendalian menurun, risiko peningkatan emisi menjadi lebih besar. Karena itu, pemantauan parameter operasi melalui DCS perlu dikombinasikan dengan kalibrasi berkala dan Continuous Emission Monitoring System (CEMS) yang tersertifikasi untuk memastikan kinerja lingkungan tetap terjaga.
Analisis finansial dan manfaat ekonomi
Dari sisi finansial, penggunaan batu bara kalori rendah menimbulkan trade-off antara peningkatan kebutuhan konsumsi bahan bakar dan peluang penghematan biaya energi. Kajian juga menilai kebutuhan dukungan fasilitas dan konsekuensinya terhadap struktur biaya pembangkitan. Secara keseluruhan, kelayakan ekonomi sangat dipengaruhi oleh harga relatif batu bara, kebutuhan investasi pendukung, dan dampaknya terhadap biaya operasi.
Analisis ekonomi makro menunjukkan bahwa perubahan kebijakan penggunaan batu bara dapat memengaruhi tingkat produksi listrik dan selanjutnya berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada pasokan listrik. Temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas mutu batu bara perlu dinilai tidak hanya dari biaya pembangkitan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap kesinambungan pasokan listrik, aktivitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Rekomendasi untuk operasi dan kebijakan
Tim kajian merekomendasikan optimasi komposisi blending, penguatan pemeliharaan preventif, serta pemantauan emisi secara berkelanjutan. Dari sisi kebijakan, diperlukan ruang fleksibilitas mutu batu bara sepanjang tetap memenuhi batas keselamatan operasi, keandalan pembangkit, dan standar emisi yang berlaku. Pendekatan tersebut dinilai dapat menjaga produksi listrik sekaligus meminimalkan risiko teknis dan lingkungan.
Penyelesaian kajian ini menjelaskan PSE UGM menghadirkan rekomendasi energi berbasis analisis yang menjembatani aspek rekayasa, lingkungan, finansial, ekonomi, dan kebijakan. Hasilnya diharapkan menjadi dasar diskusi Paiton Energy, PLN, dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan batu bara yang lebih adaptif.

