• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Energi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang PSE
    • Pengantar
    • Sejarah
    • Visi dan Misi
    • Kegiatan
    • Kerjasama
    • Personalia
  • Program Kerja
  • Jasa
    • Jasa Survei Geofisika untuk Eksplorasi Air Tanah
    • Jasa Survei Geofisika untuk Geoteknik
    • Jasa Audit Energi
  • PENELITIAN
  • Pelatihan
  • Kontak
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

irawanekop

Survei Kajian Pemenuhan Biomassa untuk Cofiring PLTU Jambi dan Kalimantan Berjalan Lancar

News Monday, 18 May 2026

Contributor: Anindya Arman Putri

Editor: Naga Pamungkas

Jambi, PSE UGM — Tim peneliti dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan survei lapangan dalam rangka kajian pemenuhan biomassa untuk program cofiring pada PLTU Mulut Tambang Jambi-1 (2×300 MW) dan PLTU Kalselgteng-3 (2×100 MW). Kegiatan ini berlangsung pada 6–15 Mei 2026 di wilayah Jambi dan Kalselteng .

Survei ini bertujuan untuk memperoleh data primer guna melengkapi kebutuhan data dalam proses penyusunan kajian. Data lapangan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung analisis terkait potensi pasokan biomassa, rantai pasok, serta kesiapan implementasi cofiring biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap yang menjadi objek kajian.

Tim survei terdiri dari Ir. Tomy Listiyanto, S.Hut., M.Env.Sc. (peneliti), Ph.D., Anindya Arman Putri, S.Tr.E., M.Sc. (asisten peneliti), dan Geika Pramana Surya, S.T., M.Eng. (asisten peneliti). Selama kegiatan berlangsung, tim melakukan pengumpulan data dan observasi lapangan untuk mendapatkan gambaran kondisi aktual terkait ketersediaan biomassa di wilayah studi.

Program cofiring biomassa sendiri menjadi salah satu strategi dalam mendukung transisi energi dan pengurangan emisi karbon pada sektor ketenagalistrikan. Melalui pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar batu bara, pembangkit listrik diharapkan dapat beroperasi dengan emisi yang lebih rendah sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya energi lokal yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, kegiatan survei berlangsung dengan lancar dan berhasil memperoleh berbagai data yang dibutuhkan untuk mendukung penyusunan kajian lebih lanjut. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan implementasi cofiring biomassa di Indonesia.

 

Silaturahmi BPH Migas dengan PSE UGM Perkuat Sinergi dan Diskusi Strategis Energi Nasional

News Wednesday, 13 May 2026

Contributor: Ardika Dhafka Alhaqie

Editor: Naga Pmungkas

Yogyakarta, PSE UGM — Dalam upaya mempererat hubungan kelembagaan dan memperkuat kolaborasi di bidang energi, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bersama Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) menggelar kegiatan silaturahmi pada 12 April 2026 di Parsley Bakery & Resto. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 20 peserta dari kedua institusi.

Acara berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Selain menjadi ajang mempererat hubungan kerja sama yang telah terjalin, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang diskusi strategis mengenai berbagai isu energi nasional, khususnya tantangan dan peluang sektor energi di Indonesia ke depan.

Dalam diskusi tersebut, kedua pihak saling bertukar pandangan terkait pengembangan kebijakan energi, ketahanan energi nasional, serta pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah dan institusi akademik dalam mendukung transisi energi berkelanjutan. Sinergi antara BPH Migas dan PSE UGM dinilai penting untuk menghadirkan kajian serta rekomendasi kebijakan yang adaptif terhadap dinamika sektor energi nasional maupun global.

Kegiatan silaturahmi ini berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala. Melalui pertemuan ini, diharapkan hubungan baik antara BPH Migas dan PSE UGM dapat terus terjalin serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang, khususnya dalam mendukung pengembangan sektor energi yang berkelanjutan dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Tenaga Ahli PSE Unjuk Gigi: Agung Satriyo Berikan Pemaparan dalam Urgensi Revisi Perpres 191/2014 dan Perpres 104/2007

News Monday, 11 May 2026

Contributor: Prof Sarjiya

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta, PSE UGM- Tepatnya pada tanggal 11 Mei 2026 Dewan Energi Nasional (DEN) mengadfakan rapat dalam rangkaUrgensi Revisi Perpres 191/2014 dan Perpres 104/2007. Dalam kesempatan ini salah satu Tenaga Ahli Pusat Studi Energi UGM , Agung Satriyo, memberikan pemaparan mengenai Skema Subsidi dan Kompensasi Berbasis Kewajaran Volume yang disampaikan melaluio zoom/online. Dalam  pemaparanya Agung Satriyo menyampaikan beberapa hal diantaranya   Substansi rancangan revisi perpres 191/2014, Simulasi penghematan bbm, dan Rekomendasi terkait JBKP dan JBT. Diharapkan sumbangsih ini dapat memberikan kemajuan terhdap dunia energi indonesia.

Harga Avtur Naik? Apakah SAF Bisa Jadi Solusi?

News Thursday, 7 May 2026

Harga Avtur Naik? Apakah SAF Bisa Jadi Solusi?

Contributor: Nugroho Dewayanto

Editor: Naga Pamungkas

Kenaikan harga avtur kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya tekanan pada sektor penerbangan global. Sebagai bahan bakar utama pesawat terbang, avtur memiliki peran vital dalam menjaga kelangsungan transportasi udara. Namun, lonjakan harga yang terjadi pada tahun 2026 diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya operasional maskapai hingga harga tiket pesawat.

Berdasarkan data terbaru, harga avtur pada April 2026 mengalami kenaikan signifikan hingga sekitar 72,5% dibandingkan April 2025. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat biaya bahan bakar menyumbang sekitar 30–40% dari total biaya operasional penerbangan.

Kenaikan harga avtur tersebut diperkirakan akan berdampak langsung pada masyarakat melalui kenaikan harga tiket pesawat yang dapat mencapai 30–35%.

Di tengah situasi tersebut, Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur mulai kembali diperbincangkan sebagai alternatif bahan bakar penerbangan yang lebih berkelanjutan. Namun, apakah SAF benar-benar siap menjadi solusi pengganti avtur konvensional?

 

Wawancara Ahli: Tantangan SAF Masih Sangat Besar

Dalam wawancara bersama Dr. Nugroho Dewayanto, dijelaskan bahwa meskipun kenaikan harga avtur membuat selisih harga SAF dan avtur semakin menyempit, SAF masih menghadapi berbagai tantangan besar baik dari sisi ekonomi maupun produksi.

“Dari sisi harga, dengan kenaikan harga avtur saat ini memang gap antara harga SAF dengan avtur semakin menyempit. Namun, harga SAF masih sekitar 2–3 kali lebih mahal dibandingkan avtur konvensional,” jelasnya.

Selain faktor harga, kapasitas produksi SAF dunia juga masih sangat terbatas. Saat ini, total produksi SAF global bahkan belum mencapai 1% dari total konsumsi avtur dunia.

“Masih sangat berat untuk mengatakan bahwa SAF bisa menjadi alternatif utama avtur, setidaknya dalam jangka pendek,” tambahnya.

 

Keterbatasan Feedstock Jadi Hambatan Utama

Menurut Dr. Nugroho, salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan SAF adalah keterbatasan rantai pasok feedstockatau bahan baku produksi.

Teknologi Hydroprocessed Esters and Fatty Acids (HEFA) sebenarnya sudah cukup matang dan banyak digunakan dalam konsep green refinery. Namun, bahan baku utama seperti used cooking oil (minyak jelantah) maupun minyak nabati masih belum mampu memenuhi kebutuhan produksi SAF dalam skala besar.

Untuk konteks Indonesia, fasilitas green refinery yang mampu memproduksi SAF juga masih sangat terbatas. Saat ini, produksi SAF baru dilakukan melalui unit co-processing milik Kilang Pertamina Internasional.

“Sementara green refinery berskala besar lainnya diperkirakan belum akan terealisasi dan beroperasi dalam 2–3 tahun mendatang,” ungkapnya.

Indonesia Punya Potensi, Tapi Masih Terkendala Regulasi

Indonesia sebenarnya memiliki potensi bahan baku yang cukup besar untuk pengembangan SAF, terutama dari sektor minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO). Namun, penggunaan CPO masih menghadapi tantangan regulasi internasional.

“Sayangnya CPO belum masuk dalam framework CORSIA sebagai bahan baku SAF,” jelas Dr. Nugroho.

Selain itu, diperlukan dukungan kebijakan berupa insentif fiskal maupun non-fiskal untuk memastikan ketersediaan bahan baku seperti used cooking oil agar industri SAF dapat berkembang lebih cepat.

SAF Belum Bisa Jadi Pengganti Utama Avtur

Meskipun harga avtur melonjak tajam, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong kesiapan SAF sebagai pengganti utama avtur konvensional dalam waktu dekat.

Menurut Dr. Nugroho, industri penerbangan global saat ini masih berada pada tahap transisi menuju target net zero emission, salah satunya melalui strategi pencampuran avtur dengan SAF secara bertahap.

“Meroketnya harga avtur saat ini masih belum memberikan dampak signifikan terhadap kesiapan SAF sebagai penggantinya,” pungkasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi energi di sektor penerbangan masih memerlukan waktu, investasi besar, serta dukungan regulasi dan rantai pasok yang lebih kuat agar SAF benar-benar dapat menjadi solusi energi penerbangan masa depan.

 

Sumber

Pancawati, M. D. (2026, April 18). Harga Avtur Naik Tajam, Pariwisata Nasional Hadapi Tekanan Baru. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/avtur-naik-tajam-pariwisata-nasional-hadapi-tekanan-baru

Politik Menuju Energi: Imbas Geopolitik terhadap Kenaikan Harga BBM Indonesia

News Tuesday, 5 May 2026

Contributor: Saiqa Ilham Akbar

Editor: Naga Pamungkas

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali menjadi perhatian publik. Penyesuaian harga yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren peningkatan signifikan, terutama pada produk BBM berkualitas tinggi.

Adapun rincian kenaikan harga BBM non-subsidi antara lain:

  • Pertamax Turbo: dari Rp 19.400 menjadi Rp 19.900 per liter
  • Dexlite: dari Rp 23.600 menjadi Rp 26.000 per liter
  • Pertamina Dex: dari Rp 23.900 menjadi Rp 27.900 per liter
  • Pertamax Green: berada di kisaran Rp 12.900 per liter

Kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan refleksi dari dinamika global yang memengaruhi sektor energi, khususnya minyak bumi.

Wawancara Ahli: Dampak Geopolitik terhadap Harga BBM

Dalam wawancara khusus, tenaga ahli ekonomi dari Pusat Studi Energi UGM, Saiqa Ilham Akbar, M.Sc., menjelaskan bahwa faktor utama kenaikan harga BBM non-subsidi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kondisi global.

Menurut Saiqa, Indonesia masih berstatus sebagai net importer minyak, sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi harga internasional. Selain itu, harga BBM dalam negeri juga mengacu pada indikator global seperti Mean of Platts Singapore (MOPS).

“Ketidakpastian politik dan hambatan arus perdagangan di Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong kenaikan harga minyak dunia. Karena Indonesia mengikuti harga internasional, maka dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga BBM di dalam negeri,” jelasnya.

Prospek Harga BBM: Sulit Kembali ke Kondisi Normal

Lebih lanjut, Saiqa menilai bahwa peluang harga BBM untuk kembali ke kondisi sebelum konflik geopolitik dalam waktu dekat relatif kecil.

“Meskipun konflik mereda, harga minyak kemungkinan akan tetap lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Ketidakpastian geopolitik meningkatkan premi risiko dalam perdagangan minyak global,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa proses pemulihan rantai pasok energi global tidak berlangsung instan. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk menstabilkan kembali cadangan minyak dunia, terutama setelah terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz.

“Permintaan minyak akan tetap tinggi dalam jangka menengah karena negara-negara berupaya mengamankan cadangan energi mereka. Hal ini menjaga harga tetap berada di atas level normal,” tambahnya.

Geopolitik dan Energi: Keterkaitan yang Tak Terpisahkan

Kenaikan harga BBM non-subsidi menjadi pengingat bahwa sektor energi tidak dapat dipisahkan dari dinamika geopolitik global. Konflik di wilayah strategis seperti Selat Hormuz memiliki dampak langsung terhadap stabilitas pasokan dan harga energi dunia.

Bagi Indonesia, kondisi ini menegaskan pentingnya strategi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan pada impor minyak.

Peran Buruh di Sektor Energi: Tulang Punggung Transisi Energi di Indonesia

NewsSosial Energy Wednesday, 29 April 2026

Contributor: Naga Pamungkas

Editor: Naga Pamungkas

Di balik isu besar seperti transisi energi, kendaraan listrik, hingga energi terbarukan, ada satu elemen penting yang sering luput dari perhatian: buruh. Padahal, sektor energi—baik hulu migas, ketenagalistrikan, hingga energi baru terbarukan—tidak akan berjalan tanpa peran para pekerja di lapangan.

Dalam konteks Indonesia, buruh energi memiliki posisi yang sangat strategis. Di Indonesia khususnya tercatat bahwa 54,06% masyarakat Indonesia memiliki status sebagai buruh (Muhamad, 2025).  Mereka bukan hanya operator teknis, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.

Dari Hulu ke Hilir: Peran Nyata di Lapangan

Di sektor hulu migas, seperti yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) dan anak usahanya, buruh berperan dalam operasional pengeboran, pemeliharaan sumur, hingga pengolahan awal minyak dan gas. Pekerjaan ini menuntut keterampilan tinggi sekaligus kesiapan menghadapi risiko kerja yang tidak kecil.

Sementara itu, di sektor ketenagalistrikan yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara, buruh bertugas memastikan listrik tetap menyala—mulai dari pembangkitan, transmisi, hingga distribusi ke rumah tangga dan industri. Tanpa mereka, stabilitas sistem kelistrikan akan sangat rentan terganggu.

Peran buruh juga semakin berkembang seiring meningkatnya proyek energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), angin, hingga panas bumi. Di sektor ini, pekerja dituntut untuk beradaptasi dengan teknologi baru yang terus berkembang.

Tantangan di Era Transisi Energi

Transisi menuju energi bersih membawa peluang sekaligus tantangan bagi buruh. Di satu sisi, muncul lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan. Namun di sisi lain, terdapat risiko pergeseran tenaga kerja dari sektor energi fosil yang selama ini menjadi tulang punggung energi nasional.

Organisasi seperti International Labour Organization menekankan pentingnya konsep just transition, yaitu proses transisi energi yang tetap memperhatikan aspek keadilan bagi pekerja. Ini mencakup pelatihan ulang (reskilling), peningkatan keterampilan (upskilling), serta perlindungan sosial bagi buruh yang terdampak.

Di Indonesia, tantangan ini semakin kompleks karena besarnya jumlah tenaga kerja yang masih bergantung pada sektor energi konvensional, terutama batu bara dan migas.

Peran Serikat Pekerja dalam Transisi Energi

Serikat pekerja merupakan salah satu organisasi yang bisa dikatakan juga terlibat penting dalam transisi energi. Dalam hal ini Serikat pekerja memiliki peran krusial yaitu sebagai “pengawas” berjalanya transisi energi yang mana mereka harus memastikan bahwa proses berjalanya transisi energi harus memenuhi hak hak dan keamanan pekerja yang terlibat dalam proses ini.

Selain itu kumpulan serikat pekerja juga turut aktif dalam advokasi transisi energi. Salah satunya merupakan advokasi transisi energi yang dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di Hotel Aryaduta Jakarta dimana banyak serikat pekerja yang turut hadir. Dalam hal ini mereka membahas terkait keadilan transisi energi.

Menuju Masa Depan Energi yang Inklusif

Ke depan, peran buruh di sektor energi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga berevolusi. Digitalisasi, otomatisasi, dan teknologi hijau akan mengubah cara kerja di sektor ini. Oleh karena itu, investasi pada pengembangan sumber daya manusia menjadi kunci.

Bagi Indonesia, memastikan bahwa buruh tidak tertinggal dalam proses transisi energi adalah sebuah keharusan. Tanpa keterlibatan dan kesiapan tenaga kerja, target besar seperti net zero emission akan sulit tercapai.

Pada akhirnya, transisi energi bukan hanya soal teknologi atau kebijakan, tetapi juga tentang manusia—mereka yang bekerja di balik layar untuk memastikan energi tetap mengalir ke seluruh negeri.

Sumber:

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). (n.d.). Menjadikan pekerja sebagai titik sentral dalam transisi energi. https://www.kspicitu.org/menjadikan-pekerja-sebagai-titik-sentral-dalam-transisi-energi/

Muhamad., N. (2025). Awal 2025, mayoritas pekerja di Indonesia bekerja sebagai buruh. https://databoks.katadata.co.id/ketenagakerjaan/statistik/681c1f97a5ec6/awal-2025-mayoritas-pekerja-di-indonesia-bekerja-sebagai-buruh

Nugraha., A. (2025, December 10). Transisi energi harus adil: Serikat pekerja tolak privatisasi dan tekankan kepemilikan publik. https://spsibekasi.org/2025/12/10/transisi-energi-harus-adil-serikat-pekerja-tolak-privatisasi-dan-tekankan-kepemilikan-publik/

POLICY BRIEF : Bridging the Gender Gaps in Indonesia’s Energy Transition

News Sunday, 19 April 2026

Policy Brief ini menilai dimensi gender dalam transisi energi Indonesia, memberikan wawasan dan rekomendasi untuk memastikan bahwa proses transisi tidak hanya mendorong tercapainya target iklim dan energi Indonesia, tetapi juga secara aktif mengintegrasikan perspektif gender ke dalam transisi tersebut.

Transisi energi yang inklusif dapat meningkatkan partisipasi angkatan kerja, mengatasi kekurangan tenaga terampil di sektor energi bersih, serta meningkatkan produktivitas. Sementara itu, kebijakan dan inisiatif energi yang responsif terhadap gender dapat membantu mengatasi ketidaksetaraan struktural.

Fokus Dokumen  ini terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, kami menyajikan analisis terhadap lanskap kebijakan dan regulasi terkait transisi energi dan kesetaraan gender, serta titik-titik persinggungannya. Selanjutnya, kami mengkaji keterlibatan perempuan dalam transisi energi, khususnya di bidang pendidikan, ketenagakerjaan, dan kepemimpinan. Terakhir, kami menyajikan analisis singkat mengenai pengalaman perempuan dalam mengelola sistem energi tingkat rumah tangga dan komunitas di pedesaan Indonesia, serta kapasitas mereka untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari inisiatif energi terbarukan.

Dokumen ini disusun berdasarkan tinjauan pustaka (desk review), serta wawancara langsung, survei, diskusi kelompok terarah (focus group discussions), dan kunjungan lapangan yang dilakukan antara tahun 2023 dan 2024.

Policy brief ini disusun berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Studi Energi (PSE), Universitas Gadjah Mada didukung oleh proyek bantuan teknis Asian Development Bank (ADB) TA10089-REG “Integrating Gender and Social Inclusion Dimensions in Climate Change Interventions in Southeast Asia”.

Dokumen dapat diunduh disini.

Plh. Kepala Pusat Studi Energi UGM Turut Hadiri Indonesia-China Track 1.5 Dialogue

News Thursday, 29 January 2026

 

Jakarta, PSE UGM- Sebagai salah satu bentuk komitmen dan keseriusan dalam bidang energi baru dan terbarukan Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.Eng., Ph.D  selakui Plh. Kepala Pusat Studi Energi UGM  turut berpartisipasi aktif dan berikan sumbangsih pemikiran dalam acara Indonesia-China Track 1.5 Dialogue yang diselenggarakan di Jakarta pada 27-28 Januari 2026. Indonesia-China Track 1.5 Dialogue diselenggarakan dengan tema “Shaping a Joint Foreign Policy Approach towards a Transformational Model in Clean Energy Partnership” yang pada dasarnya bertujuan untuk menggali lebih dalam  terkait model kebijakan luar negeri Indonesia-China terkait energi bersih dengan melibatkan berbagai sektor pemangku kepentingan.

 

Dalam forum ini Prof Ir. Sarjiya berkesempatan untuk memberikan sumbangsih pemikiran terkait “Modeling Mutually Beneficial Innovation in the Indonesia-China Clean Energy Partnership (Session 3)”. Selain topik ini, dalam forum ini juga ada beberapa topik diskusi seperti The Contexts and Factors Shaping Indonesia-China Clean Energy Partnerships, The Strength and Likehood of a “New Normal” Under a Revised Model (Session 1), Engaging Rural and Urban Communities to Adopt non-fossil Alternatives and Reduce Dependence on Fossil-based inputs in income-generating Activities (Session 2), dan Building Partnerships for Broader Societal Participation in Clean Energy: Linking Knowledge, Networks, and Government Access to Overcome Barriers (Session 4). Diharapkan diskusi ini dapat memberikan impact nyata kepada masyarakat.

PSE UGM Salurkan Bantuan Pembangkit Listrik Surya Portable untuk Daerah Terdampak Bencana di Aceh

News Tuesday, 30 December 2025

Contributor: Irawan Eko Prabowo

Editor: Naga Pamungkas

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa pembangkit listrik tenaga surya portable kepada masyarakat di wilayah terdampak bencana di Aceh. Bantuan ini mulai diserahkan ke lokasi bencana pada 28 Desember 2025 sebagai bentuk kepedulian PSE UGM terhadap pemenuhan kebutuhan energi di tengah situasi darurat. Lokasi disalurkan di Patan Kemuning, Timang Gajah dan Simpur, Mesidah Kabupaten Bener Meriah, serta Takengon Aceh. Bantuan diserahkan oleh Dr. Ir. Rachmawan Budiarto, S.T., M.T., IPU.  sebagai wakil dari PSE di lokasi terdampak bencana. Tim teknis yang ikut serta dalam kegiatan ini antara lain Dr.sc.tech. Adhy Kurniawan, S.T. dan Irawan Eko Prabowo,ST, MT.

Perangkat yang disalurkan merupakan pembangkit listrik surya portable dengan kapasitas 200 WP sebanyak 3 paket, yang dirancang untuk menyediakan sumber listrik mandiri dan ramah lingkungan. Kehadiran pembangkit ini diharapkan dapat menjadi source of alternative energy bagi masyarakat terdampak, khususnya untuk mendukung kebutuhan dasar seperti penerangan, pengisian perangkat komunikasi, serta operasional darurat lainnya saat sumber listrik PLN padam.

Dalam kondisi pascabencana, keterbatasan akses terhadap listrik sering kali menjadi tantangan utama yang menghambat proses pemulihan. Oleh karena itu, bantuan pembangkit listrik surya portable ini diharapkan mampu membantu menjaga ketersediaan energi dan mendukung upaya elektrifikasi di wilayah terdampak bencana Aceh.

Melalui kegiatan ini, PSE UGM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam penguatan ketahanan energi, termasuk pada situasi krisis dan kebencanaan. Pemanfaatan energi terbarukan dinilai menjadi solusi yang relevan dan berkelanjutan, terutama di wilayah yang mengalami gangguan infrastruktur energi konvensional.

PSE UGM berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Aceh serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendukung proses pemulihan dan kebangkitan pascabencana melalui pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan.

Srawung Energi PSE

News Monday, 30 June 2025

Bersamaan dengan pembukaan kembali Gedung PSE UGM (Sekip blok K1-A), Pusat Studi Energi (PSE) UGM menggelar diskusi panel pada Senin, 30 Juni 2025, dengan menghadirkan para ahli. Acara ini bertujuan untuk menyebarkan gagasan para pakar UGM mengenai kesiapan industri energi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Diskusi ini berfokus pada kesiapan industri energi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan menyoroti aspek industrialisasi energi, ekonomi makro, hukum, dan sumber daya manusia (SDM). Dipandu oleh Dr. Akmal Irfan Majid, dosen dan peneliti PSE UGM, diskusi dibuka dengan pemaparan dari Prof. Ir. Alva E. Tontowi, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng, yang membahas peran ekosistem industri dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Dalam paparannya, Prof. Alva menekankan pentingnya kemajuan industri yang didukung oleh sinergi dengan perguruan tinggi, yang dapat mendorong industrialisasi dan inovasi signifikan.

Selanjutnya, empat pakar dari berbagai disiplin memberikan pandangan mereka. Ardyanto Fitrady, SE, MSi, PhD, membahas konsep pertumbuhan ekonomi berdaya ungkit tinggi, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi harus diimbangi dengan penguatan institusi yang memadai. Prof. Ir. Tumiran, MEng, PhD, membahas kesiapan energi listrik untuk mendukung industrialisasi dalam negeri, menyoroti peran sektor energi dan kelistrikan dalam menggerakkan aktivitas ekonomi secara luas.

Prof. Dr. Sulistiowati, SH, MHum, mengupas kesiapan payung hukum untuk mendukung industrialisasi, menekankan bahwa regulasi hukum menjadi faktor penentu dalam akses dan perkembangan industri. Terakhir, Prof. Dr. Deendarlianto, ST, MEng, berbicara tentang penyiapan SDM industri berkualitas tinggi untuk mendukung industrialisasi. Ia menyoroti perlunya roadmap khusus untuk setiap jenis energi terbarukan agar konsep Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak menjadi kontraproduktif.

123…8

Pusat Studi Energi
Sekip Blok K1.A Kampus Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta - Indonesia
Tel/Fax: +62-0274-549429 | e-mail : pse@ugm.ac.id

Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Energi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Blok K1-A Yogyakarta 55281

pse@ugm.ac.id
 +62 (274) 549429
 +62 (274) 549429

© Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY