Contributor: Naga Pamungkas
Editor: Naga Pamungkas
Selat Hormuz merupakan salah satu Selat yang menjadi pembuluh nadi bagi distribusi dalam bidang perenergian, mengingat bahwa 20% proses distribusi minyak dan gas alam harus melintasi selat selebar 50 km ini. Dengan ditutupnya selat ini akibat konflik Amerika-Israel dengan Iran, maka terjadi lah krisis energi yang juga berdampak kepada negara lain yang tidak terlibat dalam konflik ini.
Dalam Keadaan ini China menjadi salah satu negara yang paling unggul dan siap menghadapi keadaan ini. Disamping kepemilikan akses untuk melintas Selat Hormuz, China juga memiliki posisi yang terbilang strategis dalam dunia keenergian, berikut merupakan beberapa alasannya:
- Dominasi China dalam Hal Manufaktur Energi Bersih
Dalam hal Manufaktur energi bersih, negeri tirai bambu ini bisa dikatakan menjadi salah satu negara papan atas yang sangat mendorong sektor ini. Data menunjukan bahwa negara china sendiri kurang lebih mengontrol sekitar 80% rantai pasokan tenaga surya dunia pada 2024 (Parmak, 2025). Disamping itu China juga menjadi negara terbesar dalam hal kapasitas tenaga surya dengan besaran 392 GW (H M Energi, 2023). Hal ini menandakan bahwa posisi china saat ini sangat strategis dalam hal energi yang mana dengan kuatnya kapasitas panel surya ini dapat menyokong China dari fenomena krisis energi.
- Terdepan dalam Kendaraan Bertenaga Listrik (EV)
Mobil EV atau electronic vehicle merupakan salah satu kendaraan yang menjadi trends masa ini ditandai dengan kehadiranya yang semakin hari makin luas di dunia. Saat ini China bisa dikatakan menjadi salah satu negara yang mengembangkan produk ini dengan ditandainya kehadiran-kehadiran produsen EV asal negara panda ini seperti Wuling, BYD, Chery, Geely, GAC AION, dan sebagainya. Disamping itu laporan International Energy Agency terkait Global EV Outlook 2025 menyatakan bahwa China memproduksi lebih dari 70% mobil listrik di dunia/global.
Pada dasarnya penutupan selat hormuz sangat menimbulkan dampak pada kenaikan harga minyak dunia yang tak lain merupakan salah satu bahan baku bahan bakar kendaraan. Dengan statusnya sebagai produsen 70% EV di dunia, China dapat bergantung pada produk mobil listriknya sebagai alat transportasi semisal mereka mengalami krisis terhadap minyak.
Referensi
Dundar Law. (2025). China’s global solar panel and battery domination. https://www.dundarlaw.co.uk/chinas-global-solar-panel-and-battery-domination
International Energy Agency. (2025). Global EV outlook 2025. https://www.iea.org/reports/global-ev-outlook-2025/executive-summary
Butler, G., & Mann, T. (2026). Iran: Apa Yang terjadi jika Iran menutup selat hormuz yang menjadi jalur minyak global?. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c62drdgdn44o