• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Energi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang PSE
    • Pengantar
    • Sejarah
    • Visi dan Misi
    • Kegiatan
    • Kerjasama
    • Personalia
  • Program Kerja
  • Jasa
    • Jasa Survei Geofisika untuk Eksplorasi Air Tanah
    • Jasa Survei Geofisika untuk Geoteknik
    • Jasa Audit Energi
  • PENELITIAN
  • Pelatihan
  • Kontak
  • Beranda
  • News
  • Peneliti PSE UGM: B50 Berpotensi Perkuat Ketahanan Energi Nasional dan Dukung Transisi Energi

Peneliti PSE UGM: B50 Berpotensi Perkuat Ketahanan Energi Nasional dan Dukung Transisi Energi

  • News
  • 28 July 2026, 15.18
  • Oleh: irawanekop
  • 0

Contributor: Dannys Arif Kusuma

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta – Pemerintah Indonesia terus mendorong pemanfaatan biodiesel sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu kebijakan yang kini menjadi perhatian adalah implementasi B50, yaitu bahan bakar diesel yang mengandung campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar fosil.

Menanggapi implementasi kebijakan tersebut, Peneliti Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada, Dannys Arief Kusuma, S.T., M.Eng., menilai bahwa B50 merupakan langkah yang cukup positif bagi Indonesia dalam mendukung kemandirian energi.

Menurut Dannys, penerapan B50 berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sehingga dapat menghemat devisa negara. Selain itu, kebijakan ini juga dinilai mampu meningkatkan ketahanan energi nasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit dalam negeri.

“Menurut saya, B50 merupakan pertanda yang cukup baik bagi Indonesia. Penggunaan B50 dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, menghemat devisa, meningkatkan ketahanan energi, serta memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit dalam negeri,” ujarnya.

Meski demikian, Dannys menekankan bahwa keberhasilan implementasi B50 tidak hanya bergantung pada peningkatan kadar biodiesel dalam bahan bakar. Ia mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap kualitas bahan bakar, kesiapan teknologi mesin, serta pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan baru di masa mendatang.

Selain aspek ketahanan energi, B50 juga dinilai memiliki potensi dalam mendukung upaya penurunan emisi. Dengan menggantikan separuh penggunaan solar fosil menggunakan biodiesel berbasis minyak sawit, emisi karbon, sulfur, asap hitam, dan partikulat dapat ditekan dibandingkan penggunaan solar konvensional.

Namun, Dannys menjelaskan bahwa penurunan emisi tidak dapat diartikan secara sederhana sebagai pengurangan sebesar 50 persen. Menurutnya, efektivitas B50 harus dianalisis melalui pendekatan life cycle assessment (LCA) atau penilaian siklus hidup, yang memperhitungkan seluruh tahapan mulai dari proses budidaya kelapa sawit, produksi biodiesel, distribusi, hingga proses pembakaran di dalam mesin.

“Bukan berarti emisinya otomatis turun 50 persen. Dampak sebenarnya harus dihitung dari seluruh proses, mulai dari perkebunan, produksi biodiesel, distribusi, hingga pembakaran di mesin. Jika bahan bakunya dikelola secara berkelanjutan, B50 dapat menjadi solusi transisi energi yang cukup efektif,” jelasnya.

Melalui implementasi yang didukung tata kelola berkelanjutan, peningkatan kualitas bahan bakar, serta kesiapan infrastruktur dan teknologi, B50 diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi energi dan pengurangan emisi Indonesia di masa depan.

 

Pusat Studi Energi
Sekip Blok K1.A Kampus Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta - Indonesia
Tel/Fax: +62-0274-549429 | e-mail : pse@ugm.ac.id

Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Energi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Blok K1-A Yogyakarta 55281

pse@ugm.ac.id
 +62 (274) 549429
 +62 (274) 549429

© Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY