• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Energi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang PSE
    • Pengantar
    • Sejarah
    • Visi dan Misi
    • Kegiatan
    • Kerjasama
    • Personalia
  • Program Kerja
  • Jasa
    • Jasa Survei Geofisika untuk Eksplorasi Air Tanah
    • Jasa Survei Geofisika untuk Geoteknik
    • Jasa Audit Energi
  • PENELITIAN
  • Pelatihan
  • Kontak
  • Beranda
  • News
  • Renewable Energy
Arsip:

Renewable Energy

PSE UGM Kunjungi Green Energy Ecosystem Technopark Pulau Rengit untuk Mendalami Integrasi Energi Terbarukan dan Hidrogen Hijau

NewsRenewable Energy Saturday, 22 August 2026

Kunjungan lapangan pada 21 Agustus 2026 merupakan bagian dari kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri yang dilaksanakan PSE UGM bekerja sama dengan Viriya, dengan fokus meninjau integrasi PLTS, BESS, hidrogen hijau, fuel cell, dan sistem manajemen energi pada sistem kelistrikan pulau kecil.

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) melakukan kunjungan lapangan ke Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, pada 21 Agustus 2026. Kunjungan ini merupakan bagian dari kajian “Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri” yang dilaksanakan PSE UGM bekerja sama dengan Viriya. Kegiatan lapangan diarahkan untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai kesiapan penerapan hidrogen hijau, konfigurasi dan karakteristik operasi sistem energi terbarukan terintegrasi, serta faktor-faktor yang memengaruhi pengembangannya pada sektor ketenagalistrikan dan industri di Indonesia.

GEET Pulau Rengit dikembangkan PT PLN (Persero) sebagai technopark sekaligus ruang pembelajaran teknologi energi bersih. Sistem tersebut mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya, penyimpanan energi berbasis baterai, turbin angin, produksi dan penyimpanan hidrogen hijau, fuel cell, serta Energy Management System (EMS). Secara publik, fasilitas ini kemudian diluncurkan pada 22 Agustus 2026 dan mendukung peningkatan layanan listrik masyarakat dari sebelumnya sekitar 12 jam menjadi 24 jam.

Kajian ini bertujuan membangun gambaran komprehensif mengenai tingkat kesiapan pengembangan dan pemanfaatan hidrogen hijau pada sekt or ketenagalistrikan dan industri. Karena kesiapan hidrogen tidak hanya ditentukan oleh teknologi elektroliser atau ketersediaan sumber energi terbarukan, asesmen juga memperhatikan keterkaitan antara aspek teknis, ekonomi, regulasi dan hukum, keselamatan, infrastruktur, rantai pasok, kesiapan operasional, serta potensi model pemanfaatan. Kunjungan ke Pulau Rengit memberikan bukti lapangan mengenai bagaimana produksi, penyimpanan, dan pemanfaatan hidrogen hijau dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem energi terintegrasi, sehingga menjadi salah satu referensi penting dalam penyusunan asesmen bersama Viriya.

Kunjungan dipimpin oleh Adhika Widyaparaga, Dr.Eng. sebagai Pimpinan Proyek. Tim multidisiplin PSE UGM terdiri atas Ardyanto Fitrady, Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Ekonomi; Dr. Irine Handika sebagai Tenaga Ahli Hukum; Dannys Arif Kusuma, M.Eng. sebagai Tenaga Ahli Energi Terbarukan; Wangi Pandan Sari, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Teknik Industri; Prastowo Murti, S.Si., M.Eng., Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Teknik Mesin; serta Annisa Cahyaningsih, MIntDevEc. sebagai Tenaga Ahli Ekonomi. Kegiatan juga didukung Febryani Nurcahyaningsih, S.E. sebagai Asisten Tenaga Ahli Ekonomi, serta Amanda Megawati Soestika, S.H. dan Desak Putu Rimsa, S.H. sebagai Asisten Tenaga Ahli Hukum.

Berdasarkan data yang diperoleh tim di lapangan, sistem melayani beban sekitar 12 kW dengan dukungan PLTS sekitar 80 kWp. Energi surya diintegrasikan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 2 × 100 kWh atau total sekitar 200 kWh. Konfigurasi ini memberi fleksibilitas untuk menyimpan surplus produksi listrik pada siang hari dan menyalurkannya kembali pada saat produksi surya menurun atau ketika kebutuhan beban meningkat.

Salah satu fokus utama kunjungan adalah rantai konversi energi berbasis hidrogen. Surplus listrik dari sumber energi terbarukan dapat dimanfaatkan untuk proses elektrolisis, kemudian hidrogen disimpan dan pada saat diperlukan dapat dikonversikan kembali menjadi listrik melalui fuel cell. Pendekatan ini memungkinkan fungsi penyimpanan energi berbasis hidrogen melengkapi karakter BESS yang responsif untuk kebutuhan jangka pendek.

Dari sisi rekayasa sistem, integrasi beberapa teknologi tersebut menuntut pengelolaan yang presisi. Profil produksi PLTS, kondisi baterai, kebutuhan beban, operasi elektroliser, ketersediaan hidrogen, hingga dispatch fuel cell perlu dikoordinasikan melalui sistem kontrol dan manajemen energi. Pengalaman operasional dari fasilitas seperti Pulau Rengit menjadi penting untuk mengevaluasi keandalan, efisiensi, keselamatan, kebutuhan operasi dan pemeliharaan, serta keekonomian penerapan pada sistem kelistrikan terisolasi.

Pulau Rengit merupakan contoh penting karena sebelumnya kebutuhan listrik masyarakat bergantung pada pembangkit diesel dengan waktu layanan terbatas. Setelah penerapan ekosistem energi hijau terintegrasi, pasokan listrik dapat diperkuat menjadi 24 jam. Perbaikan keandalan ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperluas ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor perikanan yang membutuhkan fasilitas pendinginan hasil tangkapan serta kegiatan produktif lainnya.

Pengembangan GEET juga membawa pendekatan agrivoltaic, yaitu pemanfaatan ruang di bawah atau sekitar panel surya untuk aktivitas pertanian. Pada konteks wilayah kepulauan dengan keterbatasan lahan dan logistik energi, pendekatan terintegrasi semacam ini menarik karena menggabungkan fungsi penyediaan energi, penyimpanan, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan demonstrasi.

Kunjungan ini memberikan pembelajaran langsung yang relevan dengan kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri bersama Viriya. Observasi fasilitas memungkinkan tim melihat hubungan antara sumber listrik terbarukan, sistem penyimpanan energi, elektroliser, penyimpanan hidrogen, fuel cell, sistem kontrol, serta kebutuhan operasi di lapangan. Selain aspek teknis, asesmen juga membutuhkan perspektif ekonomi, hukum, kelembagaan, keselamatan, dan kesiapan operasional. Karena itu, komposisi tim yang multidisiplin memungkinkan hasil kunjungan diterjemahkan menjadi masukan yang lebih utuh bagi penilaian kesiapan ekosistem hidrogen hijau di Indonesia.

Informasi publik mengenai pengembangan GEET Pulau Rengit juga mencatat keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi, termasuk UGM pada pengembangan fuel cell. Kolaborasi antara PLN, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi elemen penting agar fasilitas demonstrasi tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi menghasilkan data, pembelajaran, dan inovasi yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem energi bersih di wilayah lain.

PSE UGM memandang pengalaman Pulau Rengit relevan sebagai referensi pengembangan sistem energi bersih untuk pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil. Pengembangan perlu disesuaikan dengan potensi sumber daya energi setempat, profil dan pertumbuhan beban, kondisi jaringan, biaya logistik bahan bakar, ketersediaan lahan, kebutuhan masyarakat, kapasitas operasi dan pemeliharaan, serta kelayakan ekonomi sepanjang umur sistem.

Kombinasi PLTS, BESS, hidrogen hijau, fuel cell, turbin angin, dan EMS menunjukkan bahwa tr2ansisi energi pada sistem kepulauan tidak cukup dipandang sebagai penambahan kapasitas pembangkit terbarukan semata. Yang dibutuhkan adalah desain sistem yang mampu menyeimbangkan sumber daya, penyimpanan, kebutuhan beban, keandalan, keselamatan, dan manfaat sosial-ekonomi secara terpadu. Temuan lapangan dari Pulau Rengit selanjutnya menjadi salah satu masukan empiris dalam kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri yang dikerjakan PSE UGM bersama Viriya, sekaligus memperkuat basis pengetahuan untuk mendukung pengembangan energi yang lebih bersih, andal, adaptif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Energypedia: Sekarang Mari Kita Lihat Potensi Gelombang Laut Indonesia

NewsRenewable Energy Monday, 9 March 2026

Contributor: Ekrar Wianata

Editor: Naga Pamungkas

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi energi laut yang sangat besar, salah satunya berasal dari gelombang laut. Karakteristik perairan Indonesia yang beragam menciptakan peluang pengembangan energi terbarukan berbasis gelombang, terutama di wilayah yang langsung berhadapan dengan samudra lepas.

Wilayah selatan Jawa, Bali, dan kawasan Nusa Tenggara serta bagian barat Sumatra yang menghadap langsung ke Samudra Hindia dikenal memiliki intensitas gelombang tinggi dan relatif stabil sepanjang tahun. Kondisi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi strategis untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga gelombang laut.

Secara teknis, potensi energi gelombang di Barat Sumatera dan pesisir selatan Jawa dapat mencapai hingga 25 kW per meter (kW/m). Angka ini menunjukkan kapasitas energi yang cukup besar dan menjanjikan untuk dikonversi menjadi listrik. Sementara itu, wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur memiliki potensi hingga 20 kW/m. Di kawasan timur Indonesia, seperti Tenggara Maluku dan pesisir Papua Selatan, potensi gelombang laut diperkirakan mencapai 10 kW/m.

Besarnya potensi ini membuka peluang bagi pengembangan teknologi konversi energi gelombang sebagai bagian dari bauran energi nasional. Dengan dukungan riset, inovasi teknologi, dan kebijakan yang tepat, energi gelombang laut dapat menjadi solusi energi bersih yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan energi di wilayah pesisir Indonesia.

 

Pakar Pusat Studi Energi UGM Turut berikan Sumbangsih Pemikiran dalam Acara Pro Justicia

NewsRenewable Energy Thursday, 13 November 2025

Contributor: Naga Pamungkas

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta, PSE UGM- Pro Justicia merupakan acara yang membahas seputar hukum di Indonesia. Tepatnya pada Selasa 11 November 2025, Pro Justicia mengundang 2 Pakar PSE UGM antara lain Prof. Ir. Tumiran M.Eng., Ph.D. dan Prof. Dr. Mailinda Eka Yuniza S.H., L.L.M. yang akan membagikan pemikirannya terkait “Peran Strategis Masyarakat Sebagai Agen Perubahan dalam Mendorong Transisi Energi yang Adaptif dan Kolaboratif Menuju Target Net -Zero Emission (NZE) 2026”. Dalam diskusi ini mereka menegaskan bahwa kesuksesan transisi energi harus didukung oleh pemerintah ( dengan pembuatan kebijakan dan sebagainya) dan juga masyarakat. Selain itu Prof. Tumiran juga menegaskan bahwa kesuksesan transisi energi dimulai dari kebiasaan masyarakat seperti penggunaan kendaraan bebas emisi (sepeda, becak, dan sebagainya) dan penggunaan peralatan rumah tangga yang lebih beremisi rendah seperti penggunaan kompor listrik dibandingkan kompor gas. Diharapkan diskusi dan sumbangsih ini dapat menggerakkan masyarakat untuk lebih bertransisi menuju clean energy.

Peneliti Pusat Studi Energi UGM Lolos Pendanaan Grant Riset Sawit 2025

NewsRenewable Energy Thursday, 13 November 2025

Contributor: Hanif Rahmawan Sudibyo

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta, PSE UGM-  Tepatnya pada 11 November 2025 5 peneliti Pusat Studi Energi UGM Dr. Hanif Rahmawan Sudibyo S.T., M.Eng, Prof. Ir. Wiratni Budhijanto S.T., M.T., Ph.D., IPM, dan Prof. Dr.Eng. Ir Arief Budiman M.S, Robertus Dhimas Dhewangga Putra S.T., M.Eng., Ph.D, dan Daniel Tanto S.I.Kom berhasil lolos pendanaan Grant Riset Sawit 2025 oleh BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit) dengan proposal berjudul “Optimasi Produksi dan Aplikasi Biochar Berbasis Biomassa Kelapa Sawit Strategi Meraih Carbon dan Nutrient Credit Untuk Industri Sawit Berkelanjutan”. Selain itu para peneliti PSE UGM ini juga dibantu beberapa peneliti lainya seperti Dr.nat.techn. Rizki Maftukhah (UGM), Dr. Ir. Ai Dariah (BRIN), Dr. Edi Iswanto Wiloso (BRIN), Joni Jupesta S.T., M.Sc., M.B.A., Ph.D (IPB), Dan Dian Ary Kurniawan S.Pi (Astra Agro Lestari). Harpanya hal ini dapat menjadi awal pertanda baik untuk kemajuan riset serta perkembangan yang positif menuju green and clean energy.

Speaking at Solar & Storage, Prof Sarjiya Turut Sumbang Pemikiran

NewsRenewable Energy Saturday, 8 November 2025

Contributor : Prof Sarjiya

Editor: Naga Pamungkas

Jakarta, PSE UGM- Tepatnya pada tanggal 6-7 November 2025 di Ice BSD, Kepala Pusat Studi Energi UGM (Prof. Ir. Sarjiya S.T., M.T., Ph.D., IPU) Menjadi salah satu Narasumber dalam ajang “Speaking at Solar & Storage”. Mengingat jabatanya sebagai Kepala Pusat Studi Energi dan juga Kepakaran dalam bidang “Kelistrikan” maka beliau berkesempatan untuk  mengisi dalam stage “Rural Electrification & Smart Grid” dengan tema besar diskusi “Utility Scale Solar as a Catalyst for Rural Development”. Disini beliau juga dibersamai oleh beberapa panelis lain seperti Taufiq Hidayat Putra (Director of Partnership and Integration for Infrastructure Development, Ministry of National Development Planning/National Development Planning Agency (Bappenas)),  Hanny Berchmans (Advanced Energy System Advisor, Tetra Tech), Ruddy Gobel (Senior Policy Adviser, Center for Policy Development, Australia). Acara Ini diharapkan dapat memberi kebermanfaatan bagi khalayak  nasional maupun internasional terutama terkait bidang electricity.

Prof Tumiran Turut Berikan Sambutan dalam Acara peresmian SPKLU

NewsRenewable Energy Friday, 7 November 2025

Contributor: Prof Tumiran

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta, PSE UGM– Salah satu dewan pengarah UGM, Prof Ir. Tumiran M.Eng., Ph.D. berkesempatan memberikan sambutan dalam pembukaan SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) di PLN UP 3 Yogyakarta yang akan diresmikan oleh Direktur Distribusi PLN pada 06 November 2025. Semoga SPKLU ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat serta mendorong Indonesia untuk lebih bertransisi energi menuju ke green and clean energy.

Energy Dictionary #4: Yuk, Kita telurusi Terkait Kontribusi Bioenergi dalam Bauran EBT Indonesia

NewsRenewable Energy Friday, 24 October 2025

Kontributor: Ekrar Winata

Editor: Naga Pamungkas

Energi Baru dan Terbarukan atau dapat disingkat EBT merupakan hal yang bisa dibilang urgent mengingat Badan Pusat Statistik Indonesia (BPSI) telah mendokumentasikan bahwa Indonesia telah memproduksi emisi sebanyak 1.053.476.000 Ton CO2  yang mana hal ini menandakan bahwa diperlukan transisi energi menuju renewable and clean energy untuk mengurangi emisi dan mencapai Net-zero Emission (NZE).  Maka dari itu, sebagai salah satu langkah dan komitmen mencapai hal tersebut, pemerintah menetapkan target bauran energi terbarukan yang tentu sifatnya selalu meningkat per tahunnya. Data report IESR yang didokumentasikan oleh Simanjuntak (2024) telah mencatat bahwa target bauran energi baru dan terbarukan dari tahun ke tahun sangat bervariasi dan tentunya meningkat dengan angka  19-21% (2030), 38-40% (2040), 58-61% (20     50), dan 70-72% (2060). Diharapkan, suatu saat Indonesia dapat mencapai  NZE yang berarti tidak ada emisi CO2 sama sekali dalam hal energi (0 Emisi).

Salah satu upaya untuk mencapai target bauran energi terbarukan di atas dan mencapai kondisi “NZE” adalah penggunaan Bioenergi. Bioenergi bisa dikatakan sebagai salah satu EBT potensial mengingat posisinya sebagai top-3 EBT dengan rata rata pertumbuhan tertinggi sebesar 22,10 % dibawah angin dengan persentase pertumbuhan per tahun sebesar  31,52 % yang menduduki top 2 dan energi surya yang menduduki top 1 dengan persentase 82,16%. Secara detail, diantara berbagai ragam jenis bioenergi, biofuel memegang kontribusi terbesar terhadap capaian bauran bioenergi selama 4 tahun terakhir diikuti oleh PLT Bioenergi, Biomassa Industri, dan Biogas. Hal ini menunjukan bahwa Bioenergi dapat dijadikan salah satu sumber pengganti bahan bakar fosil  mengingat bahwa bahan bakar fosil akan semakin menipis dan akan habis di waktu tertentu.

Refrensi Tambahan:

Simanjuntak, U. (2024, July 17). Rpp Ken Pangkas target EBT Menjadi 19 persen di 2025. IESR. https://iesr.or.id/rpp-ken-pangkas-target-ebt-menjadi-19-persen-di-2025/

BPSI. (2025). Physical supply and use for GHG emission of Indonesia . Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MjI4NyMy/penyediaan-dan-penggunaan-fisik-untuk-emisi-grk-indonesia.html

Energy Dictionary #2: PLTS Untuk Pendidikan

NewsRenewable Energy Wednesday, 8 October 2025

Contributor: Irawan Eko Prabowo

Editor: Naga Pamungkas

 

Emisi Energi merupakan salah satu hal yang harus diperhitungkan dalam dunia energi. Badan Pusat Statistik Indonesia (BPSI), memaparkan bahwa Indonesia telah memproduksi emisi sebanyak 1.053.476.000 ton di tahun 2023 yang mana juga merupakan jumnlah yang cukup banyak. Maka dari itu sebagai inisiatif dalam bertransisi ke arah yang lebih baik, PSE UGM bekerjasama dengan Pertamina dan PLN melakukan pembangunan PLTS di SMA 3 Yogyakarta.Pembangunan ini dilakukan di Laboraturium Fisika SMA 3 yogyakarta.  Dengan adanya pembangunan ini Siswa/siswi SMA 3 Yogyakarta dapat secara langsung mempelajari cara kerja sistem tenaga surya mulai dari penyerapan sinar matahari hingga diubah menjadi listrik siap pakai. Diharapkan fasilitas ini dapat memfasilitasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa/siswi SMA 3 dalam melakukan pembelajaran terkait Energi terbarukan dan konversi energi.

UGM Kenalkan Teknologi Desalinasi Tenaga Surya Atasi Kelangkaan Air Bersih di Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Climate ChangeHukum dan KebijakanNewsRenewable Energy Saturday, 25 May 2024

Universitas Gadjah Mada (UGM), diwakili oleh peneliti Pusat Studi Energi (PSE), Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) , Fakultas Teknik dan Fakultas Geografi bekerja sama dengan Artha Graha Peduli (AGP) dan Forum Peduli Mangrove Bali (FPM-B) menggelar workshop Side Event World Water Forum (WWF) ke-10 yang bertajuk “Water-Energy Nexus, Achieving SDGs” di Telaga Waja, di Tanjung Benoa Mangrove Rehabilitation Area, Bali, Kamis (23/5).

Kegiatan ini diikuti oleh peserta 6 negara diantaranya dari Pakistan, Nigeria, Malaysia, Filipina, Slovakia, Indonesia. Dalam workshop tersebut menghadirkan tiga orang pembicara yakni peneliti Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Dr. Rachmawan Budiarto, Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) dan Fakultas Geografi UGM, Dr. Lintang Nur Fadlillah, M.Sc., Ir. Novias Nurendra selaku Senior Advisor PT Hutama Karya dan Ir. Nyoman Sweet Juniartini dari Forum Peduli Mangrove-Bali yang dipandu oleh Dr. Intan Supraba dosen Fakultas Teknik UGM.

Lintang mengatakan cakupan layanan air minum di Indonesia sekarang ini telah mencapai 91,05% dan akses terhadap sanitasi telah meningkat sebesar 80,92%, namun masih banyak daerah terpencil di Indonesia khususnya wilayah pesisir masih memiliki keterbatasan akses terhadap air bersih dan air minum.

“Pulau-pulau kecil seringkali menghadapi tantangan penyediaan air bersih dan air minum,” ungkap peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada, Dr. Lintang Nur Fadlillah.

Rachmawan Budiarto mengenalkan teknologi desalinasi air dengan tenaga solar panel atau dikenal dengan nama Photovoltaics Sea Water Reverse Osmosis (PV-SWRO). Menurutnya, konsep desalinasi merupakan pilihan yang makin perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan air minum karena fitur teknologinya. “Kombinasi teknologi SWRO dan produksi energi menggunakan teknologi bertenaga surya saat ini telah tersedia di pasar untuk diterapkan di wilayah pesisir,“ terangnya.

Penggunaan teknologi PV-SWRO ini akan diterapkan di pulau-pulau melalui SALT Project dengan gagasan penyelarasan Water-Energy Nexus. Menurut Dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik UGM ide dari proyek ini adalah memasok air minum dengan jumlah yang cukup dan kualitas air baik, dengan didukung oleh energi terbarukan dan dengan harga terjangkau. “Proyek ini juga menekankan pendekatan transdisiplin dalam menawarkan solusi,” katanya.

Dikatakan Rachmawan, pelaksanaan proyek ini bertujuan untuk menerapkan teknologi PV-SWRO ke pulau-pulau terpencil terpilih di Indonesia, memastikan keberlanjutan operasional dan finansial proyek, serta akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Workshop yang dihadiri puluhan peserta dari enam negara ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan baru dari para pegiat muda Indonesia dan luar negeri dalam penyelesaian permasalahan air terutama di pulau kecil dan wilayah kering lainnya. Workshop ini juga berupaya untuk memperkuat dan meluaskan kolaborasi internasional.

Workshop ini dihadiri oleh Bapak I Ketut Subandi selaku Kepala UPTD Tahura Bali dan ditinjau oleh Duta Besar Indonesia untuk UNESCO. Pemilihan lokasi workshop di area mangrove untuk memberikan pesan kepada peserta tentang pentingnya mangrove sebagai coastal protection, mengurangi seawater intrusion, meningkatkan kualitas air yang mana mangrove mampu menyerap nutrisi seperti nitrogen dan phospat penyebab algae bloom termasuk sedimen, dan juga mitigasi perubahan iklim.

Penulis: Gusti Grehenson

PSE Berkolaborasi dalam Net Zero Carbon Communities (NZCC) Application In Makassar City

Climate ChangeNewsRenewable EnergySosial Energy Tuesday, 7 May 2024

Pusat Studi Energi (PSE) UGM berkolaborasi dengan beberapa universitas dalam dan luar negeri pada proyek Net Zero Carbon Communities (NZCC). Proyek ini melibatkan sejumlah peneliti dari berbagai institusi antara lain : Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), Pennsylvania State University, University of Colorado – Boulder, dan Pemerintah Kota Makassar. Rangkaian proyek ini didanai oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, U.S. National Science Foundation (NSF) dan Pemerintah Kota Makassar bekerjasama dengan Pennsylvania State University dan University of Colorado – Boulder.

Proyek ini akan berupaya untuk mengintegrasikan sistem energi terbarukan ke dalam masyarakat untuk mengurangi emisi karbon di Kota Makassar, Indonesia melalui kolaborasi sinergis antara tim Amerika dan Indonesia serta kemitraan erat dengan Kota Makassar. Makassar berupaya menjadi kota kelas dunia yang layak huni bagi 1,7 juta orang dengan populasi beragam dan berkembang pesat. Berbagai program yang sedang berlangsung di kota ini bertujuan untuk meningkatkan kelayakan hidup kota, diukur berdasarkan faktor-faktor termasuk kualitas udara, indeks panas, ketahanan pangan, dan interaksi sosial.

Proyek ini mengambil pendekatan holistik menuju komunitas rendah emisi karbon dengan mempertimbangkan konsumsi energi, emisi karbon, keterlibatan masyarakat, pariwisata, dan ekonomi lokal. Melalui penerapan energi terbarukan di beberapa komunitas, emisi karbon dapat dikurangi dan pembangunan dapat dijalankan secara lebih berkelanjutan.

Pemodelan tingkat lanjut menunjukkan diperlukannya pemahaman yang lebih mendalam tentang hubungan air-energi-makanan yang berkaitan dengan pengurangan emisi karbon. Kolaborasi dengan kota Makassar menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk memperluas komunitas net zero menjadi kota net zero.

Proyek ini merupakan salah satu aktivitas dari Centre for Development of Sustainable Energy (CDSR) dalam PSE UGM.

Tautan : https://sites.psu.edu/sbslab/research/city/net-zero-carbon-community-nzcc/

123…8

Pusat Studi Energi
Sekip Blok K1.A Kampus Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta - Indonesia
Tel/Fax: +62-0274-549429 | e-mail : pse@ugm.ac.id

Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Energi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Blok K1-A Yogyakarta 55281

pse@ugm.ac.id
 +62 (274) 549429
 +62 (274) 549429

© Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY