Kunjungan lapangan pada 21 Agustus 2026 merupakan bagian dari kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri yang dilaksanakan PSE UGM bekerja sama dengan Viriya, dengan fokus meninjau integrasi PLTS, BESS, hidrogen hijau, fuel cell, dan sistem manajemen energi pada sistem kelistrikan pulau kecil.
Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) melakukan kunjungan lapangan ke Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) Pulau Rengit, Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, pada 21 Agustus 2026. Kunjungan ini merupakan bagian dari kajian “Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri” yang dilaksanakan PSE UGM bekerja sama dengan Viriya. Kegiatan lapangan diarahkan untuk memperoleh pemahaman langsung mengenai kesiapan penerapan hidrogen hijau, konfigurasi dan karakteristik operasi sistem energi terbarukan terintegrasi, serta faktor-faktor yang memengaruhi pengembangannya pada sektor ketenagalistrikan dan industri di Indonesia.
GEET Pulau Rengit dikembangkan PT PLN (Persero) sebagai technopark sekaligus ruang pembelajaran teknologi energi bersih. Sistem tersebut mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya, penyimpanan energi berbasis baterai, turbin angin, produksi dan penyimpanan hidrogen hijau, fuel cell, serta Energy Management System (EMS). Secara publik, fasilitas ini kemudian diluncurkan pada 22 Agustus 2026 dan mendukung peningkatan layanan listrik masyarakat dari sebelumnya sekitar 12 jam menjadi 24 jam.
Kajian ini bertujuan membangun gambaran komprehensif mengenai tingkat kesiapan pengembangan dan pemanfaatan hidrogen hijau pada sekt or ketenagalistrikan dan industri. Karena kesiapan hidrogen tidak hanya ditentukan oleh teknologi elektroliser atau ketersediaan sumber energi terbarukan, asesmen juga memperhatikan keterkaitan antara aspek teknis, ekonomi, regulasi dan hukum, keselamatan, infrastruktur, rantai pasok, kesiapan operasional, serta potensi model pemanfaatan. Kunjungan ke Pulau Rengit memberikan bukti lapangan mengenai bagaimana produksi, penyimpanan, dan pemanfaatan hidrogen hijau dapat ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem energi terintegrasi, sehingga menjadi salah satu referensi penting dalam penyusunan asesmen bersama Viriya.
Kunjungan dipimpin oleh Adhika Widyaparaga, Dr.Eng. sebagai Pimpinan Proyek. Tim multidisiplin PSE UGM terdiri atas Ardyanto Fitrady, Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Ekonomi; Dr. Irine Handika sebagai Tenaga Ahli Hukum; Dannys Arif Kusuma, M.Eng. sebagai Tenaga Ahli Energi Terbarukan; Wangi Pandan Sari, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Teknik Industri; Prastowo Murti, S.Si., M.Eng., Ph.D. sebagai Tenaga Ahli Teknik Mesin; serta Annisa Cahyaningsih, MIntDevEc. sebagai Tenaga Ahli Ekonomi. Kegiatan juga didukung Febryani Nurcahyaningsih, S.E. sebagai Asisten Tenaga Ahli Ekonomi, serta Amanda Megawati Soestika, S.H. dan Desak Putu Rimsa, S.H. sebagai Asisten Tenaga Ahli Hukum.
Berdasarkan data yang diperoleh tim di lapangan, sistem melayani beban sekitar 12 kW dengan dukungan PLTS sekitar 80 kWp. Energi surya diintegrasikan dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 2 × 100 kWh atau total sekitar 200 kWh. Konfigurasi ini memberi fleksibilitas untuk menyimpan surplus produksi listrik pada siang hari dan menyalurkannya kembali pada saat produksi surya menurun atau ketika kebutuhan beban meningkat.
Salah satu fokus utama kunjungan adalah rantai konversi energi berbasis hidrogen. Surplus listrik dari sumber energi terbarukan dapat dimanfaatkan untuk proses elektrolisis, kemudian hidrogen disimpan dan pada saat diperlukan dapat dikonversikan kembali menjadi listrik melalui fuel cell. Pendekatan ini memungkinkan fungsi penyimpanan energi berbasis hidrogen melengkapi karakter BESS yang responsif untuk kebutuhan jangka pendek.
Dari sisi rekayasa sistem, integrasi beberapa teknologi tersebut menuntut pengelolaan yang presisi. Profil produksi PLTS, kondisi baterai, kebutuhan beban, operasi elektroliser, ketersediaan hidrogen, hingga dispatch fuel cell perlu dikoordinasikan melalui sistem kontrol dan manajemen energi. Pengalaman operasional dari fasilitas seperti Pulau Rengit menjadi penting untuk mengevaluasi keandalan, efisiensi, keselamatan, kebutuhan operasi dan pemeliharaan, serta keekonomian penerapan pada sistem kelistrikan terisolasi.
Pulau Rengit merupakan contoh penting karena sebelumnya kebutuhan listrik masyarakat bergantung pada pembangkit diesel dengan waktu layanan terbatas. Setelah penerapan ekosistem energi hijau terintegrasi, pasokan listrik dapat diperkuat menjadi 24 jam. Perbaikan keandalan ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga memperluas ruang bagi aktivitas ekonomi masyarakat, terutama sektor perikanan yang membutuhkan fasilitas pendinginan hasil tangkapan serta kegiatan produktif lainnya.
Pengembangan GEET juga membawa pendekatan agrivoltaic, yaitu pemanfaatan ruang di bawah atau sekitar panel surya untuk aktivitas pertanian. Pada konteks wilayah kepulauan dengan keterbatasan lahan dan logistik energi, pendekatan terintegrasi semacam ini menarik karena menggabungkan fungsi penyediaan energi, penyimpanan, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan demonstrasi.
Kunjungan ini memberikan pembelajaran langsung yang relevan dengan kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri bersama Viriya. Observasi fasilitas memungkinkan tim melihat hubungan antara sumber listrik terbarukan, sistem penyimpanan energi, elektroliser, penyimpanan hidrogen, fuel cell, sistem kontrol, serta kebutuhan operasi di lapangan. Selain aspek teknis, asesmen juga membutuhkan perspektif ekonomi, hukum, kelembagaan, keselamatan, dan kesiapan operasional. Karena itu, komposisi tim yang multidisiplin memungkinkan hasil kunjungan diterjemahkan menjadi masukan yang lebih utuh bagi penilaian kesiapan ekosistem hidrogen hijau di Indonesia.
Informasi publik mengenai pengembangan GEET Pulau Rengit juga mencatat keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi, termasuk UGM pada pengembangan fuel cell. Kolaborasi antara PLN, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat menjadi elemen penting agar fasilitas demonstrasi tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi menghasilkan data, pembelajaran, dan inovasi yang dapat digunakan untuk pengembangan sistem energi bersih di wilayah lain.
PSE UGM memandang pengalaman Pulau Rengit relevan sebagai referensi pengembangan sistem energi bersih untuk pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil. Pengembangan perlu disesuaikan dengan potensi sumber daya energi setempat, profil dan pertumbuhan beban, kondisi jaringan, biaya logistik bahan bakar, ketersediaan lahan, kebutuhan masyarakat, kapasitas operasi dan pemeliharaan, serta kelayakan ekonomi sepanjang umur sistem.
Kombinasi PLTS, BESS, hidrogen hijau, fuel cell, turbin angin, dan EMS menunjukkan bahwa tr2ansisi energi pada sistem kepulauan tidak cukup dipandang sebagai penambahan kapasitas pembangkit terbarukan semata. Yang dibutuhkan adalah desain sistem yang mampu menyeimbangkan sumber daya, penyimpanan, kebutuhan beban, keandalan, keselamatan, dan manfaat sosial-ekonomi secara terpadu. Temuan lapangan dari Pulau Rengit selanjutnya menjadi salah satu masukan empiris dalam kajian Comprehensive Green Hydrogen Readiness Assessment untuk Sektor Ketenagalistrikan dan Industri yang dikerjakan PSE UGM bersama Viriya, sekaligus memperkuat basis pengetahuan untuk mendukung pengembangan energi yang lebih bersih, andal, adaptif, dan berkelanjutan di Indonesia.


