• UGM
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Energi
Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Tentang PSE
    • Pengantar
    • Sejarah
    • Visi dan Misi
    • Kegiatan
    • Kerjasama
    • Personalia
  • Program Kerja
  • Jasa
    • Jasa Survei Geofisika untuk Eksplorasi Air Tanah
    • Jasa Survei Geofisika untuk Geoteknik
    • Jasa Audit Energi
  • PENELITIAN
  • Pelatihan
  • Kontak
  • Beranda
  • News
Arsip:

News

PSE UGM dan Pertamina New & Renewable Energy Gelar FGD Waste-to-Energy untuk Mendukung Pengembangan PSEL di TPST Piyungan

News Thursday, 20 August 2026

Contributor                  : Naga Pamungkas

Editor                            : Naga Pamungkas

Yogyakarta, 19 Agustus 2026 — Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) bersama Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) terkait pengembangan Waste-to-Energy (WtE) di kawasan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Rabu (19/8). Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Tentrem, Yogyakarta, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah daerah serta organisasi perangkat daerah.

FGD ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperoleh informasi dan data primer yang diperlukan dalam mendukung kajian pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPST Piyungan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memperoleh klarifikasi mengenai kebijakan yang berlaku serta menghimpun masukan dari pemerintah daerah terkait berbagai aspek yang berpengaruh terhadap pengembangan proyek.

Dalam pelaksanaannya, diskusi secara khusus membahas sejumlah aspek strategis, meliputi aspek sosial, ekonomi, legal, dan teknis. Berbagai aspek tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan proyek PSEL dapat berjalan secara komprehensif serta selaras dengan kondisi dan kebutuhan daerah.

Kegiatan FGD dihadiri oleh perwakilan pemerintah dan dinas di tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, serta Kota Yogyakarta. Selain itu, turut hadir perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Sekretariat Bersama Kartamantul.

Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi eksisting, kebutuhan, tantangan, serta peluang pengembangan proyek PSEL di TPST Piyungan. Masukan dari pemerintah daerah juga menjadi salah satu elemen penting dalam mengidentifikasi faktor pendukung maupun potensi kendala yang perlu diperhatikan dalam tahapan pengembangan proyek.

Melalui forum ini, PSE UGM dan PNRE berupaya membangun ruang dialog yang konstruktif dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Hasil diskusi diharapkan dapat menjadi bahan masukan dalam proses kajian serta mendukung perumusan strategi pengembangan Waste-to-Energy yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan pengelolaan sampah di kawasan TPST Piyungan.

PSE UGM Rampungkan Kajian Dampak Penggunaan Batu Bara Kalori Rendah di PLTU Paiton

News Saturday, 15 August 2026

Editor: Dannys Arif Kusuma

Kajian lintas disiplin menilai aspek teknis, emisi, finansial, dan dampak ekonomi pemanfaatan batu bara kalori rendah pada PLTU Paiton Unit 3 serta Unit 7 dan 8.

Yogyakarta – Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) telah merampungkan kajian mengenai dampak penggunaan batu bara kalori rendah terhadap aspek teknis dan finansial pada PLTU Paiton Unit 3 serta Unit 7 dan 8. Kajian dilaksanakan bersama PT Paiton Energy pada 2025 dan telah diselesaikan sesuai masa pelaksanaan yang disepakati.

Kajian ini disusun untuk memberikan dasar analitis bagi pengambilan keputusan terkait fleksibilitas mutu batu bara. Di tengah dinamika pasokan dan harga bahan bakar, batu bara kalori rendah dapat menjadi alternatif, namun penggunaannya perlu memperhitungkan efisiensi pembangkit, batas peralatan, potensi slagging dan fouling, kinerja sistem pengendalian emisi, serta konsekuensi biaya dan dampak ekonomi yang lebih luas.

Pendekatan lintas disiplin dari lapangan hingga rekomendasi

Pelaksanaan kajian memadukan kunjungan lapangan, observasi kondisi operasi, penelaahan informasi historis dan parameter operasi dari Distributed Control System (DCS), serta simulasi pembakaran dan neraca panas-massa. Tim mengevaluasi sejumlah skenario blending batu bara dengan karakteristik mutu yang berbeda dan menilai pengaruhnya terhadap daya pembangkitan, heat rate, efisiensi, kecenderungan slagging-fouling, serta emisi. Analisis tersebut dilengkapi dengan kajian finansial dan analisis input-output untuk melihat implikasi ekonomi secara menyeluruh.

Kajian dipimpin oleh Ardyanto Fitrady, Ph.D. sebagai tenaga ahli ekonomi sekaligus Ketua Proyek. Tim tenaga ahli PSE UGM melibatkan Prof. Bambang Riyanto L.S., Ph.D. pada bidang keuangan; Ir. Robertus Dhimas Dhewangga Putra, Ph.D. pada bidang pembakaran; Dr. Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno pada bidang emisi karbon; serta Dannys Arif Kusuma, M.Eng. pada bidang mekanika. Proses analisis turut didukung oleh Wenang Suprayogi, M.Sc., Tito Aron Palti Sidabalok, S.T., Iqbal Kautsar, S.E., dan Febryani Nugrahaningsih, S.E. sebagai asisten tenaga ahli sesuai bidang masing-masing.

Mengukur batas teknis dan menjaga keandalan pembangkit

Hasil analisis menunjukkan bahwa batas operasi tidak hanya ditentukan oleh nilai kalor batu bara, tetapi juga oleh konfigurasi dan kapasitas peralatan utama. Evaluasi pada beberapa konfigurasi operasi menunjukkan bahwa penurunan mutu batu bara perlu diimbangi dengan kecukupan kapasitas pulverizer, fan, aliran gas buang, dan peralatan pendukung lainnya. Dengan demikian, pemanfaatan batu bara kalori lebih rendah tetap perlu ditempatkan dalam ruang operasi yang terverifikasi dan tidak melampaui batas desain peralatan.

Dari aspek deposit abu, kajian menunjukkan bahwa fouling menjadi perhatian utama karena berpengaruh terhadap perpindahan panas dan efisiensi. Sejumlah skenario blending memberikan karakteristik yang lebih terkendali, sedangkan kombinasi dengan kecenderungan fouling lebih tinggi memerlukan penguatan sootblowing, inspeksi tube, dan pemantauan heat exchanger. Temuan ini menegaskan pentingnya menentukan komposisi blending berdasarkan karakteristik batu bara dan kondisi aktual unit.

 

Pengendalian emisi menjadi prasyarat utama

Analisis emisi menegaskan bahwa keandalan Flue Gas Desulfurization (FGD) merupakan faktor penting dalam menjaga emisi sulfur dioksida tetap sesuai persyaratan. Ketika efektivitas sistem pengendalian menurun, risiko peningkatan emisi menjadi lebih besar. Karena itu, pemantauan parameter operasi melalui DCS perlu dikombinasikan dengan kalibrasi berkala dan Continuous Emission Monitoring System (CEMS) yang tersertifikasi untuk memastikan kinerja lingkungan tetap terjaga.

Analisis finansial dan manfaat ekonomi

Dari sisi finansial, penggunaan batu bara kalori rendah menimbulkan trade-off antara peningkatan kebutuhan konsumsi bahan bakar dan peluang penghematan biaya energi. Kajian juga menilai kebutuhan dukungan fasilitas dan konsekuensinya terhadap struktur biaya pembangkitan. Secara keseluruhan, kelayakan ekonomi sangat dipengaruhi oleh harga relatif batu bara, kebutuhan investasi pendukung, dan dampaknya terhadap biaya operasi.

Analisis ekonomi makro menunjukkan bahwa perubahan kebijakan penggunaan batu bara dapat memengaruhi tingkat produksi listrik dan selanjutnya berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada pasokan listrik. Temuan ini menunjukkan bahwa fleksibilitas mutu batu bara perlu dinilai tidak hanya dari biaya pembangkitan, tetapi juga dari pengaruhnya terhadap kesinambungan pasokan listrik, aktivitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Rekomendasi untuk operasi dan kebijakan

Tim kajian merekomendasikan optimasi komposisi blending, penguatan pemeliharaan preventif, serta pemantauan emisi secara berkelanjutan. Dari sisi kebijakan, diperlukan ruang fleksibilitas mutu batu bara sepanjang tetap memenuhi batas keselamatan operasi, keandalan pembangkit, dan standar emisi yang berlaku. Pendekatan tersebut dinilai dapat menjaga produksi listrik sekaligus meminimalkan risiko teknis dan lingkungan.

Penyelesaian kajian ini menjelaskan PSE UGM menghadirkan rekomendasi energi berbasis analisis yang menjembatani aspek rekayasa, lingkungan, finansial, ekonomi, dan kebijakan. Hasilnya diharapkan menjadi dasar diskusi Paiton Energy, PLN, dan pemerintah dalam merumuskan kebijakan batu bara yang lebih adaptif.

Hari Ini Tim ITB Resmi Langsungkan Kunjungan ke PSE UGM

News Friday, 14 August 2026

Contributor         : Naga Pamungkas

Editor                  : Naga Pamungkas

Yogyakarta, 14 Agustus 2026 — Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) menerima kunjungan studi banding dari Kelompok Keahlian Ilmu dan Rekayasa Termal (IRT) serta Kelompok Keahlian Dinamika Fluida dan Propulsi (DFP), Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), Institut Teknologi Bandung (ITB), pada Jumat (14/8/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Pusat Studi Energi UGM, Yogyakarta.

Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan kelembagaan sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara PSE UGM dengan kelompok keahlian di lingkungan FTMD ITB. Melalui kegiatan studi banding ini, kedua institusi berkesempatan untuk saling berbagi informasi mengenai pengelolaan kegiatan akademik, riset, serta pengembangan keilmuan di bidang energi dan rekayasa.

Dari pihak PSE UGM, kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah akademisi dan peneliti, yaitu Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU; Prof. Dr. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng.; R. Derajad Sulistyo Widhyharto, S.Sos., M.Si.; Dr. Eng. Ir. Adhika Widyaparaga, S.T., M. Biomed.; Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng.; serta Ekrar Winata, S.Si., M.Sc.

Kehadiran Kelompok Keahlian IRT dan DFP FTMD ITB juga menjadi momentum untuk memperluas jejaring kolaborasi antarinstitusi pendidikan tinggi di Indonesia. Kolaborasi antara PSE UGM dan FTMD ITB diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan studi banding, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dalam bidang penelitian, pengembangan teknologi, pendidikan, maupun kegiatan lain yang mendukung penguatan sektor energi nasional.

Melalui kegiatan ini, PSE UGM terus berkomitmen untuk membangun ekosistem kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi dan kelompok keahlian. Sinergi antarlembaga menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi untuk mendukung ketahanan serta transisi energi di Indonesia.

PSE UGM Selesaikan Pengembangan Modul Prescriptive Analytics untuk Mendukung Keandalan Turbin PLTA Singkarak

News Thursday, 13 August 2026

Pusat Studi Energi UGM bekerja sama dengan PT PLN Indonesia Power melalui Divisi Technology Development dan PLTA UBP Singkarak dalam mengembangkan modul predictive-prescriptive analytics yang menghubungkan data operasi, machine learning, FMEA, dan sistem rekomendasi pemeliharaan. Pekerjaan dilaksanakan selama 16 minggu dan dituntaskan pada November 2025.

Yogyakarta, November 2025 – Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) menyelesaikan pengembangan modul Prescriptive Analytics pada generator-turbin PLTA Singkarak sebagai bagian dari kolaborasi riset terapan dengan PT PLN Indonesia Power melalui Divisi Technology Development dan PLTA UBP Singkarak. Pengembangan ini diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan data operasi pembangkit agar tidak berhenti pada fungsi pemantauan, tetapi dapat berkembang menjadi analisis kondisi, prediksi kecenderungan, dan rekomendasi tindakan yang mendukung pengambilan keputusan pemeliharaan secara lebih sistematis.

Gambar 1. Kerangka umum integrasi predictive maintenance dan prescriptive maintenance.

Sumber: Laporan Akhir PSE UGM – PT PLN Indonesia Power, 2025.

Mengubah Data Operasi Menjadi Actionable Insight

Transformasi digital pada pembangkit menghasilkan data dalam jumlah besar dari berbagai kanal operasi dan pemantauan aset. Tantangannya bukan semata-mata menyediakan data, melainkan memastikan data tersebut memiliki kualitas yang memadai, dapat dibaca secara konsisten oleh model analitik, dan diterjemahkan menjadi informasi yang relevan bagi operator serta pengelola aset. Karena itu, metodologi kajian dirancang sebagai alur end-to-end yang mencakup pengelolaan data, pemodelan prediktif, analisis risiko kegagalan, mesin inferensi preskriptif, integrasi dashboard, serta tata kelola siklus hidup model.

 

Gambar 2. Alur pengembangan model prediktif mulai dari data quality, preprocessing, pemodelan, evaluasi, hingga pemilihan model.

Sumber: Laporan Akhir PSE UGM – PT PLN Indonesia Power, 2025.

Kajian diketuai oleh Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. dengan dukungan Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D. pada pengembangan machine learning dan Ir. Achmad Pratama Rifai, S.T., M.Eng., Ph.D. pada data mining serta FMEA. Pengembangan antarmuka didukung Untara Vivi Chahya, S.T., sedangkan pengelolaan proyek didukung Dannys Arif Kusuma, S.T., M.Eng. Tim juga melibatkan Rifqi Fauzi, S.T., M.Sc., Raditya Fadhil Arva, Athan Gibran, dan Adinda Sekar Ludwika, S.T., M.Sc. untuk mendukung pengolahan data, pengembangan modul, validasi, dokumentasi, dan pelaksanaan kegiatan teknis lainnya.

Metodologi Komprehensif: Dari Data Quality hingga Model Selection

Tahap pertama adalah akuisisi dan penyiapan data operasi dari ekosistem pemantauan pembangkit. Data deret waktu disusun berdasarkan indeks waktu yang konsisten agar hubungan temporal antarsinyal tetap terjaga. Nilai nonnumerik akibat gangguan komunikasi atau sensor diperlakukan sebagai missing value, kemudian dilakukan pemeriksaan kualitas untuk mendeteksi noise, data kosong, outlier, dan pola yang tidak wajar. Pada bagian data yang memenuhi kriteria pemulihan, kajian menerapkan interpolasi dan pendekatan regresi untuk membentuk kembali sinyal yang kontinu tanpa menghilangkan karakter operasi utama.

Setelah data dibersihkan, dilakukan preprocessing sesuai kebutuhan algoritma. Untuk model berbasis sekuens, data dipisahkan menjadi kelompok pelatihan, validasi, dan pengujian dengan tetap menjaga urutan waktu, kemudian dinormalisasi agar perbedaan skala antarsensor tidak mendominasi proses belajar. Untuk model berbasis pohon keputusan, struktur data disiapkan dalam format yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan dan validasi. Tahap ini penting untuk memastikan perbandingan model dilakukan pada basis data yang konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada lapisan prediktif, kajian menggunakan dua keluarga algoritma dengan karakter berbeda. Long Short-Term Memory (LSTM) digunakan untuk menangkap ketergantungan temporal dan pola berurutan pada data sensor, sementara Light Gradient Boosting Machine (LightGBM) digunakan sebagai pendekatan berbasis gradient boosting yang efisien untuk memetakan hubungan nonlinier pada data tabular dan deret waktu yang telah direkayasa. Penggunaan dua pendekatan ini memungkinkan proses benchmarking internal sehingga pemilihan model tidak bergantung pada satu algoritma saja.

Evaluasi model dilakukan menggunakan beberapa metrik kesalahan, pemeriksaan konsistensi pola prediksi terhadap data aktual, serta penilaian kewajaran fisik hasil model. Kajian juga memperhatikan kondisi ketika metrik persentase dapat menjadi kurang representatif, misalnya pada sinyal dengan nilai sangat kecil atau mendekati nol. Dengan demikian, proses evaluasi tidak hanya bersifat numerik, tetapi juga mempertimbangkan karakter sensor, stabilitas data, pola operasi, serta kesesuaian hasil dengan konteks engineering. Model yang paling sesuai kemudian dipilih atau dikombinasikan pada level variabel agar keluaran prediksi lebih robust untuk kebutuhan pemeliharaan.

Prescriptive Analytics Berbasis FMEA dan Expert Knowledge

Lapisan preskriptif dibangun dengan menghubungkan hasil prediksi model dengan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Proses FMEA dilakukan secara sistematis melalui identifikasi komponen dan subkomponen, fungsi peralatan, functional failure, failure mode, penyebab kegagalan, dampak kegagalan, serta penilaian tingkat kritikalitas. Variabel sensor yang relevan kemudian dipetakan terhadap failure mode sehingga perubahan kondisi temperatur atau vibrasi dapat dikaitkan dengan potensi mekanisme kegagalan tertentu.

Dalam tahap inferensi, sistem menggunakan rule-based logic dengan batas kondisi yang terdefinisi jelas. Prediksi kondisi peralatan dibandingkan dengan threshold operasional yang telah dilengkapi faktor keamanan, kemudian diproses bersama konfigurasi FMEA untuk menentukan apakah suatu failure mode perlu diaktifkan sebagai peringatan. Logika ini dirancang agar setiap rekomendasi tetap memiliki traceability: operator dapat menelusuri keterkaitan antara indikator sensor, mode kegagalan, prioritas risiko, rekomendasi inspeksi, dan tindakan pemeliharaan yang disarankan.

Gambar 3. Alur prescriptive analytics yang menghubungkan prediksi kondisi, FMEA, rule-based inference, dan rekomendasi tindakan.

Sumber: Laporan Akhir PSE UGM – PT PLN Indonesia Power, 2025.

Untuk mengurangi risiko human error, informasi FMEA dan threshold dirancang agar dapat diproses secara terstruktur oleh program. Mekanisme normalisasi teks dan pembacaan konfigurasi memungkinkan sistem mengenali variabel terkait secara konsisten meskipun terdapat perbedaan format penulisan. Pendekatan ini penting karena prescriptive analytics tidak hanya membutuhkan model yang akurat, tetapi juga tata kelola pengetahuan engineering yang dapat dipelihara dan diperbarui secara berkelanjutan.

Integrasi dengan Dashboard dan Tata Kelola Siklus Hidup Model

Tahap berikutnya adalah deployment model ke ekosistem digital perusahaan. Hasil predictive dan prescriptive analytics diintegrasikan dengan PI Vision dan diarahkan untuk mendukung fungsi pemantauan pada REOC (Reliability, Efficiency, and Optimization Center). Melalui pendekatan ini, dashboard tidak hanya menampilkan tren parameter, tetapi juga menyajikan indikasi kondisi, potensi failure mode, prioritas, dan rekomendasi tindakan dalam satu alur informasi yang lebih terstruktur.

Kajian juga memperkuat aspek keberlanjutan model setelah implementasi. Dokumentasi teknis mencakup arsitektur deployment, mekanisme pemrosesan data, kebutuhan retraining ketika terjadi perubahan karakteristik operasi atau concept drift, prosedur penanganan missing data dan prediksi ekstrem, mekanisme rollback ketika model bermasalah, serta pembagian peran melalui responsibility matrix. Tata kelola ini diperlukan agar modul analitik dapat dipelihara sebagai sistem operasional, bukan sekadar prototipe pemodelan.

Selain pengembangan sistem, kegiatan juga mencakup knowledge sharing dan workshop teknis untuk mendukung transfer pengetahuan kepada tim internal. Alih pengetahuan mencakup pemahaman alur data, logika pemodelan, cara membaca hasil prediksi, interpretasi rekomendasi preskriptif, serta prinsip pemeliharaan dan pengembangan model. Dengan demikian, keberlanjutan sistem tidak hanya bertumpu pada source code, tetapi juga pada kapasitas pengguna dan pengelola sistem.

Mendukung Pemeliharaan yang Lebih Preventif dan Berbasis Risiko

Pengembangan modul Prescriptive Analytics memberikan kerangka bagi pengelolaan aset pembangkit untuk bergerak dari pemeliharaan berbasis jadwal menuju pendekatan yang semakin condition-based, predictive, dan prescriptive. Dengan menggabungkan data sensor, machine learning, FMEA, dan rule-based recommendation, sistem dapat membantu mengidentifikasi kecenderungan kondisi lebih dini dan menyediakan konteks engineering sebelum tindakan pemeliharaan ditetapkan.

Pendekatan tersebut berpotensi membantu pengelola pembangkit mengurangi ketergantungan pada interpretasi manual, meningkatkan konsistensi pengambilan keputusan, dan memperkuat kesiapan tindakan preventif. Kajian juga membuka ruang pengembangan lanjutan menuju model probabilistik, risk-based maintenance scheduling, dan rekomendasi berbasis konsekuensi sehingga keputusan pemeliharaan pada masa mendatang dapat semakin mempertimbangkan tingkat risiko serta dampak operasional secara terukur.

Penyelesaian kajian oleh PSE UGM untuk menghadirkan riset terapan yang menjembatani keilmuan akademik dengan kebutuhan nyata industri ketenagalistrikan. Kolaborasi ini diharapkan menjadi salah satu pijakan penguatan digitalisasi pemeliharaan pembangkit, khususnya dalam pemanfaatan data untuk menjaga keandalan, ketersediaan, dan keberlanjutan operasi aset pembangkitan.

 

 

Update Harga BBM Agustus 2026: Pertamax Turun, Harga Solar Tetap

Hukum dan KebijakanNews Thursday, 13 August 2026

Contributor         : Naga Pamungkas

Editor                  : Naga Pamungkas

Yogyakarta — Memasuki Agustus 2026, terjadi penyesuaian harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Berdasarkan informasi harga BBM yang berlaku pada Agustus 2026, beberapa jenis BBM nonsubsidi mengalami penurunan harga, sementara harga BBM subsidi serta sejumlah produk BBM diesel tetap dipertahankan.

Penyesuaian harga tersebut dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, serta kondisi dan daya beli masyarakat.

Harga BBM Agustus 2026

Untuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), harga BBM Pertamina yang berlaku pada Agustus 2026 adalah sebagai berikut:

Jenis BBM Harga per Liter
Pertalite Rp10.000
Pertamax Rp15.950
Pertamax Green 95 Rp16.600
Pertamax Turbo Rp18.300
BioSolar Rp6.800
Dexlite Rp19.700
Pertamina Dex Rp21.150

Harga tersebut menunjukkan bahwa Pertalite dan BioSolar sebagai BBM bersubsidi masih berada pada harga yang sama, masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter. Sementara itu, beberapa BBM nonsubsidi mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Harga Pertamax, misalnya, turun dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 juga turun dari Rp17.000 menjadi Rp16.600 per liter. Penurunan terbesar terjadi pada Pertamax Turbo yang turun dari kisaran Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter di sejumlah wilayah.

Harga Solar Tetap

Berbeda dengan sejumlah produk BBM bensin, harga BBM jenis solar tidak mengalami perubahan pada penyesuaian Agustus 2026. BioSolar tetap berada pada harga Rp6.800 per liter, sedangkan Dexlite berada di level Rp19.700 per liter untuk wilayah DIY.

Pertamina Dex juga tetap dipasarkan dengan harga Rp21.150 per liter di wilayah DIY. Harga produk diesel nonsubsidi tersebut tidak mengalami perubahan pada periode penyesuaian kali ini.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyesuaian harga BBM pada Agustus 2026 tidak terjadi secara merata pada seluruh jenis bahan bakar. Perubahan terutama terjadi pada beberapa produk BBM nonsubsidi jenis bensin, sementara harga solar relatif stabil.

Faktor Penyesuaian Harga BBM

Harga BBM nonsubsidi dapat mengalami perubahan mengikuti perkembangan sejumlah indikator energi dan ekonomi. Penyesuaian harga mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah, dengan tetap memperhatikan daya beli masyarakat serta ketersediaan pasokan BBM nasional.

Selain itu, harga BBM nonsubsidi dapat berbeda antarwilayah karena adanya perbedaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dan kebijakan daerah. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan daftar harga yang berlaku di wilayah masing-masing.

Dampak terhadap Konsumen dan Sektor Energi

Perubahan harga BBM menjadi salah satu indikator penting dalam melihat dinamika sektor energi nasional. Penurunan harga sejumlah BBM nonsubsidi dapat memberikan ruang bagi konsumen pengguna BBM nonsubsidi untuk mengurangi pengeluaran bahan bakar.

Di sisi lain, stabilnya harga BioSolar dan BBM diesel nonsubsidi menjadi informasi penting bagi sektor transportasi, logistik, dan berbagai kegiatan ekonomi yang menggunakan kendaraan berbahan bakar diesel.

Dengan demikian, perkembangan harga BBM perlu terus dipantau karena dapat berkaitan dengan biaya mobilitas masyarakat maupun biaya operasional berbagai sektor ekonomi.

Pusat Studi Energi UGM akan terus menyajikan informasi dan kajian terkait perkembangan sektor energi, termasuk dinamika harga BBM dan implikasinya terhadap masyarakat serta perekonomian nasional.

PSE UGM Selesaikan Kajian Legalitas dan Pengelolaan Bisnis B2B PT Pertamina Patra Niaga

NewsPenelitian Wednesday, 12 August 2026

Editor: Dannys Arif Kusuma

Kajian multidisiplin mengintegrasikan aspek hukum, ekonomi-bisnis, pricing, teknis-operasional, risiko, dan benchmarking untuk memperkuat tata kelola serta pengambilan keputusan berbasis bukti.

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) telah menyelesaikan Kajian Analisis Aspek Legalitas & Pengelolaan Business to Business dalam Konteks BUMN dan Perhitungan Keekonomian Agen BBM Industrial & Marine Fuel Business (IMFB) bersama PT Pertamina Patra Niaga. Kajian ini disusun sebagai ruang analisis lintas disiplin untuk mempertemukan perspektif kepatuhan hukum, keberlanjutan bisnis, keekonomian, strategi harga, operasional, dan pengelolaan risiko dalam satu kerangka yang konsisten.

Dalam bisnis energi yang sangat dipengaruhi dinamika harga, perubahan regulasi, karakter pelanggan, serta kompleksitas rantai pasok, pengambilan keputusan B2B tidak cukup dinilai dari satu indikator. Karena itu kajian ini diarahkan untuk memahami keputusan bisnis secara utuh: mulai dari landasan hukumnya, dampaknya terhadap portofolio dan profitabilitas, mekanisme pembentukan harga, kelayakan bagi mitra usaha, hingga konsekuensi operasional dan risiko yang harus dikelola.

Pelaksanaan kajian berlangsung selama empat bulan, mulai 27 Mei hingga 27 September 2025. Sepanjang periode tersebut, proses analisis dilakukan secara bertahap dan iteratif melalui penelaahan dokumen, pengolahan data, pembahasan bersama counterpart, pendalaman lintas bidang, serta validasi temuan sebelum dirumuskan menjadi rekomendasi yang dapat digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan.

Kolaborasi Tenaga Ahli Lintas Disiplin

Kajian dipimpin oleh Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU. sebagai Ketua Tim. Pendalaman bisnis dan profitabilitas melibatkan Prof. Dr. Bambang Riyanto L.S., M.B.A., Ak., CA.; aspek hukum didalami oleh Prof. Dr. Sulistiowati, S.H., M.Hum.; sementara analisis ilmu ekonomi, makro energi, infrastruktur migas, teknis-operasional, akuntansi, finansial, dan keuangan diperkuat oleh Ardyanto Fitrady, M.Si., Ph.D., Dr. Eng. Ir. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M.Eng., Robertus Dhimas Dhewangga Putra, S.T., M.Eng., Ph.D., Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng., Ph.D., Yudi Santara Setyapurnama, S.E., M.Si., Ak., CA., BKP, Agung Wahyu Wasisto, S.E., M.M., serta Thomas Riadi Pranoto, S.E.

Tim ahli tersebut didukung oleh Dannys Arif Kusuma, S.T., M.Eng. dan Wenang Suprayogi, S.T., M.Sc. pada aspek energi dan makro energi, serta Iqbal Kautsar, S.E., dan Tito Aron Palti Sidabalok, S.T yang memperkuat proses analisis pada bidang akuntansi, ekonomi, hukum, infrastruktur migas, serta teknis-operasional. Komposisi lintas disiplin ini memungkinkan isu bisnis dibaca bukan secara parsial, tetapi melalui keterkaitan antara regulasi, angka ekonomi, sistem operasi, dan risiko implementasi.

Sesi diskusi dan validasi lintas fungsi sebagai bagian dari proses pendalaman kajian. Sumber: Dokumentasi PSE UGM.

 

Metodologi Komprehensif dan Terintegrasi

Metodologi kajian menggunakan pendekatan campuran dengan mengombinasikan data primer dan sekunder. Kerangka ini dipilih agar analisis tidak hanya bergantung pada angka atau dokumen formal, tetapi juga menangkap konteks keputusan, proses bisnis, dan pertimbangan manajerial yang melatarinya. Temuan dari satu sumber dibandingkan dengan sumber lain melalui triangulasi sehingga asumsi, anomali data, maupun perbedaan perspektif dapat diuji sebelum digunakan sebagai dasar kesimpulan.

1. Basis Data & Triangulasi

Desk study, regulasi, dokumen internal, literatur, data bisnis, wawancara/FGD, validasi dan konsistensi data.

2. Hukum, Kepatuhan & Tata Kelola

Regulatory mapping, legal review, periodisasi kebijakan, compliance assessment, governance dan batasan risiko keputusan bisnis.

3. Ekonomi, Profitabilitas & Portofolio

Pemetaan produk–pelanggan–channel, struktur biaya, contribution margin, CVP/BEP, margin of safety, skenario dan sensitivitas.

4. Pricing & Keekonomian Mitra

Pemetaan pembentukan harga, referensi pasar, discount/margin/fee, kewajaran model, kompetitivitas, dan uji volatilitas.

5. Teknis, Operasional & Risiko

Process mapping rantai pasok, bottleneck, efisiensi distribusi, risiko harga/kurs, evaluasi hedging, dan prioritas mitigasi.

6. Benchmarking & Rekomendasi

Perbandingan praktik industri, gap analysis, sintesis lintas bidang, validasi, dan penyusunan rekomendasi yang implementatif.

Pertama, pembangunan basis bukti dan validasi data. Kajian diawali dengan desk study terhadap peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, pedoman dan prosedur internal, literatur akademik, laporan yang relevan, serta referensi praktik industri. Data bisnis yang tersedia kemudian ditelaah konsistensinya dan dihubungkan dengan informasi primer yang diperoleh melalui wawancara, diskusi teknis, dan Focus Group Discussion (FGD). Tahap ini berfungsi untuk membangun satu basis informasi yang dapat menjelaskan tidak hanya “apa” yang terjadi, tetapi juga “mengapa” suatu kebijakan atau pola bisnis terbentuk.

Kedua, analisis hukum, regulasi, dan tata kelola. Tim melakukan regulatory mapping dan periodisasi kebijakan untuk menelusuri hubungan antara ketentuan eksternal dan kebijakan internal yang memengaruhi kegiatan B2B. Legal review mencakup status dan posisi korporasi, ruang pengambilan keputusan komersial, kepatuhan operasional, tata kelola, otorisasi, serta batasan hukum yang perlu diperhatikan ketika kebijakan bisnis beririsan dengan mandat publik. Pendekatan comparative policy analysis digunakan untuk menempatkan praktik domestik dalam perspektif regulasi dan tata kelola yang lebih luas. Dengan cara ini, rekomendasi ekonomi dan operasional diuji lebih dahulu dari sisi legal defensibility dan prinsip Good Corporate Governance.

Ketiga, analisis ekonomi-bisnis dan profitabilitas portofolio. Pendekatan tidak berhenti pada laba-rugi per transaksi, tetapi memetakan hubungan produk, pelanggan, channel, volume, harga, dan struktur biaya dalam satu portofolio. Biaya dipilah menurut perilakunya menjadi komponen tetap, variabel, dan semi-variabel serta—sejauh data memungkinkan—ditelusuri melalui direct tracing, high-low method, atau analisis regresi. Selanjutnya digunakan contribution margin dan Cost-Volume-Profit Analysis (CVPA) untuk membaca Break-Even Point (BEP), margin of safety, kontribusi masing-masing produk atau pelanggan terhadap penyerapan biaya tetap, serta implikasi perubahan volume dan harga terhadap profitabilitas keseluruhan. Perspektif ini penting agar keputusan tidak dinilai hanya berdasarkan full cost satu transaksi, melainkan juga dampaknya terhadap kinerja portofolio secara agregat.

Keempat, analisis pricing dan keekonomian mitra usaha. Tim memetakan mekanisme pembentukan harga B2B, struktur referensi pasar, komponen biaya, diskon, margin, dan fee pada model yang relevan. Analisis kemudian menguji keterkaitan pricing dengan daya saing, keberlanjutan margin perusahaan, serta keekonomian agen atau mitra. Skenario perubahan harga, biaya, dan volume digunakan untuk melihat ketahanan model; sedangkan sensitivity analysis dan simulasi probabilistik seperti Monte Carlo dapat digunakan untuk memahami dampak volatilitas variabel pasar terhadap margin dan kelayakan bisnis. Pada model harga yang berbasis indeks, evaluasi juga mempertimbangkan perilaku referensi pasar dan kebutuhan mekanisme yang tetap transparan, terukur, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Kelima, analisis teknis-operasional dan manajemen risiko. Aspek ini memetakan alur layanan dan distribusi dari titik suplai hingga pelanggan, mengidentifikasi potensi bottleneck, keterlambatan, ketidakefisienan logistik, serta titik risiko yang dapat memengaruhi kualitas layanan dan biaya. Risiko harga dan kurs ditempatkan dalam kerangka manajemen risiko yang mempertimbangkan eksposur, batas toleransi, mekanisme monitoring, dokumentasi, dan akuntabilitas. Evaluasi strategi hedging menggunakan perangkat kuantitatif seperti Value-at-Risk (VaR) sebagai salah satu referensi untuk mengukur eksposur, kemudian dibaca bersama tata kelola limit, pelaporan, serta tujuan mitigasi agar aktivitas lindung nilai tetap berorientasi pada pengendalian risiko dan bukan spekulasi.

Keenam, benchmarking, gap analysis, dan penyusunan rekomendasi. Praktik bisnis, portofolio, penetapan harga, model keagenan, tata kelola, dan efisiensi operasional dibandingkan dengan referensi industri dan perusahaan energi di berbagai negara. Benchmarking tidak digunakan untuk menyalin praktik luar secara langsung, melainkan untuk mengidentifikasi prinsip yang relevan dan menguji kesesuaiannya dengan konteks regulasi serta karakter pasar Indonesia. Gap yang ditemukan kemudian disintesis bersama hasil analisis hukum, ekonomi, pricing, operasional, dan risiko. Prioritas rekomendasi ditentukan berdasarkan dampak, kepatuhan, kelayakan ekonomi, urgensi risiko, dan kemudahan implementasi; pendekatan pembobotan multikriteria seperti AHP dapat digunakan untuk membantu mengurutkan prioritas mitigasi.

Pendalaman temuan melalui sesi pembahasan bersama. Sumber: Dokumentasi PSE UGM.

Dari Analisis menuju Rekomendasi yang Implementatif

Tahap akhir kajian menyatukan seluruh hasil menjadi rekomendasi. Temuan hukum dibaca bersama implikasi ekonominya; hasil profitabilitas dikaitkan dengan strategi harga dan perilaku portofolio; sementara rekomendasi pricing diuji terhadap konsekuensi operasional, risiko pasar, tata kelola, dan benchmark industri. Proses sintesis ini dirancang untuk mengurangi risiko rekomendasi yang optimal pada satu sisi tetapi menimbulkan persoalan pada sisi lainnya.

Diskusi pembahasan kajian. Sumber: Dokumentasi PSE UGM

 

Melalui pendekatan tersebut, PSE UGM mendorong penggunaan kerangka pengambilan keputusan yang lebih evidence-based, transparan, dan adaptif. Fokus kajian bukan pada satu formula yang bersifat statis, melainkan pada mekanisme evaluasi yang memungkinkan perusahaan menilai perubahan kondisi pasar, biaya, volume, regulasi, dan risiko secara berkala serta menyesuaikan strategi bisnis dengan tetap menjaga prinsip kepatuhan dan tata kelola.

Penyelesaian kajian ini sekaligus memperkuat peran PSE UGM sebagai mitra akademik dalam menjembatani kebutuhan industri dengan pendekatan ilmiah yang aplikatif. Kolaborasi lintas disiplin diharapkan dapat memberikan fondasi analisis yang lebih utuh bagi pengembangan bisnis B2B yang kompetitif, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PHE Dorong Intensifikasi Pemboran dan Eksplorasi Migas

Hukum dan KebijakanNews Tuesday, 11 August 2026

Contributor: –

Editor: Naga Pamungkas

BALI — Upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional terus dilakukan melalui pengembangan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas). Peningkatan aktivitas pemboran, eksplorasi sumber daya baru, serta optimalisasi potensi gas bumi menjadi sejumlah langkah yang dinilai penting untuk menjaga ketersediaan energi di tengah meningkatnya kebutuhan nasional.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Virano Nasution, menyampaikan bahwa ketersediaan sumur pemboran menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat membuka SPE/IADC Asia Pacific Drilling Technology Conference and Exhibition 2026 di Bali pada 5–6 Agustus 2026.

Menurut Virano, strategi tersebut tidak hanya ditujukan untuk mempertahankan tingkat produksi dari lapangan-lapangan migas yang telah memasuki fase mature, tetapi juga diarahkan untuk menemukan dan mengembangkan sumber daya baru. Salah satu fokusnya adalah membuka potensi sumber daya di kawasan Indonesia Timur serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya gas bumi.

“Energi di Indonesia bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi utama bagi keberlangsungan hidup lebih dari 280 juta orang yang tersebar di 17.000 pulau,” ujar Virano.

Intensifikasi Pemboran di Berbagai Wilayah

Sebagai bagian dari strategi penguatan sektor hulu, PHE saat ini meningkatkan aktivitas pemboran melalui pengembangan ratusan sumur, kegiatan workover, serta eksplorasi di berbagai wilayah kerja. Aktivitas tersebut mencakup wilayah darat (onshore) dan lepas pantai (offshore), mulai dari Blok Rokan dan Sumatra Selatan hingga Kalimantan serta kawasan Indonesia Timur.

Intensifikasi kegiatan pemboran menjadi penting mengingat sebagian lapangan migas yang telah berproduksi menghadapi tantangan berupa penurunan produksi secara alami. Pada saat yang sama, penemuan sumber daya baru diperlukan untuk menjaga kesinambungan pasokan energi dalam jangka panjang.

Namun, pengembangan sektor hulu migas ke depan juga menghadapi tantangan teknis yang semakin kompleks. Sumur-sumur migas di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan semakin banyak berada di lokasi terpencil dengan kondisi tekanan dan temperatur yang tinggi. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan teknologi, peralatan pemboran, sumber daya manusia yang kompeten, serta riset dan inovasi yang berkelanjutan.

Talenta dan Teknologi Menjadi Faktor Penting

Virano menilai bahwa pengembangan industri hulu migas tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan terhadap talenta dan penguasaan teknologi. Transfer pengetahuan dan teknologi dibutuhkan dalam berbagai bidang, mulai dari eksplorasi dan pemboran pengembangan hingga penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Carbon Capture and Storage (CCS).

Perkembangan tersebut juga menunjukkan bahwa kompetensi di sektor pemboran masih memiliki relevansi dalam menghadapi perubahan lanskap energi. Keahlian para insinyur pemboran, ahli geologi, dan geofisikawan tidak hanya diperlukan untuk mendukung produksi minyak dan gas, tetapi juga dapat berkontribusi pada pengembangan energi panas bumi serta infrastruktur penyimpanan karbon.

Dengan demikian, transformasi sektor energi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap kompetensi teknis yang telah berkembang dalam industri migas. Sebaliknya, kompetensi tersebut dapat menjadi bagian dari basis keahlian untuk mendukung pengembangan berbagai teknologi energi di masa mendatang.

Pengembangan Hulu Migas Berkelanjutan

Selain meningkatkan kegiatan operasional, PHE juga menyatakan komitmennya untuk menjalankan kegiatan usaha hulu migas dengan memperhatikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Aspek keberlanjutan tersebut mencakup penguatan tata kelola perusahaan, budaya kepatuhan, integritas, serta upaya pencegahan fraud dalam kegiatan operasional.

Penguatan sektor hulu migas pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana sumber daya energi dikelola secara efektif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat bagi kebutuhan nasional.

Strategi intensifikasi pemboran, eksplorasi sumber daya baru, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan ketahanan energi Indonesia. Di tengah proses transisi menuju sistem energi yang lebih rendah karbon, sektor hulu tetap memiliki peran strategis dalam memastikan ketersediaan energi sekaligus mempersiapkan fondasi teknologi dan kompetensi untuk kebutuhan energi masa depan.

Sumber Rujukan:

 

Yurika. (2026, August 10). Wadirut Pertamina Hulu Energi beberkan strategi ketahanan energi. Dunia Energi. https://www.dunia-energi.com/wadirut-pertamina-hulu-energi-beberkan-strategi-ketahanan-energi/

 

Big Opportunity: PSE UGM Turut Hadiri Pelatihan Komunikasi dari Cast From Clay UK

News Monday, 10 August 2026

Contributor: Naga Pamungkas

Editor: Naga Pamungkas

Yogyakarta, 10 Agustus 2026 — Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) turut berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan komunikasi yang menghadirkan Cast From Clay UK, perusahaan konsultan komunikasi berbasis di Inggris. Kegiatan ini menjadi salah satu momentum bagi PSE UGM untuk mengembangkan serta menggali lebih jauh potensi diseminasi hasil riset agar dapat dikomunikasikan secara lebih efektif kepada berbagai kelompok audiens.

Pelatihan yang dilaksanakan pada 10 Agustus 2026 tersebut bertempat di Kantor Viriya ENB dan menghadirkan Jammie Horton, Konsultan Komunikasi Senior Cast From Clay sekaligus pemateri utama. Dari PSE UGM, kegiatan ini dihadiri oleh Dr. Eng. Ir. Adhika Widyapraga, S.T., M.Biomed., selaku Peneliti PSE UGM; Dr. Ir. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng.; serta Naga Pamungkas, selaku Kepala Humas PSE UGM.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar strategi komunikasi, termasuk bagaimana membangun komunikasi yang efektif serta menyampaikan pesan secara tepat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pemahaman mengenai strategi komunikasi menjadi penting, khususnya dalam konteks riset, agar berbagai temuan ilmiah dapat diterjemahkan menjadi informasi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan.

Salah satu materi utama yang dibahas adalah mengenal audiens. Peserta diajak untuk memahami bahwa setiap kelompok audiens memiliki kebutuhan informasi, karakteristik, serta cara menerima pesan yang berbeda. Dengan memahami audiens secara lebih mendalam, komunikasi hasil riset diharapkan dapat dirancang secara lebih relevan dan tepat sasaran.

Selain itu, pelatihan juga membahas pemetaan dan perencanaan komunikasi secara lebih mendalam. Materi ini menjadi relevan bagi PSE UGM dalam mengembangkan strategi komunikasi yang mampu mendukung proses diseminasi berbagai kajian dan riset energi. Perencanaan komunikasi yang terstruktur dapat membantu memastikan bahwa hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat, industri, pemerintah, maupun pemangku kepentingan lainnya.

Ke depan, penguatan strategi komunikasi diharapkan mampu mendukung PSE UGM dalam menjalankan perannya sebagai lembaga yang tidak hanya menghasilkan kajian dan riset di bidang energi, tetapi juga mampu mengomunikasikan pengetahuan secara efektif untuk mendorong pemahaman, kolaborasi, dan pengambilan kebijakan berbasis riset.

 

PSE UGM Rampungkan Kajian Terintegrasi Cooling Tower PLTU Tanjung Balai Karimun

NewsPenelitian Friday, 7 August 2026

Contributor : Dannys Arif Kusuma, M.Eng.

Kajian untuk PT PLN Indonesia Power menggabungkan assessment kondisi eksisting, feasibility study penambahan unit, serta detailed engineering design cooling tower baru dan perkuatan struktur eksisting sebagai dasar peningkatan keandalan sistem pendingin pembangkit.

Tim PSE UGM bersama jajaran PT PLN Indonesia Power pada rangkaian kegiatan lapangan di PLTU Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) telah menyelesaikan Kajian Assessment Kondisi Eksisting serta Feasibility Study dan Detailed Engineering Design Penambahan Cooling Tower PLTU Tanjung Balai Karimun. Pekerjaan dilaksanakan bersama PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Kepulauan Riau dengan masa pelaksanaan sejak 9 Juli 2025 hingga 4 Januari 2026.

Kajian disusun untuk memberikan dasar pengambilan keputusan yang utuh, mulai dari penilaian kondisi struktur dan performa unit eksisting, analisis kelayakan penambahan kapasitas pendinginan, hingga penyusunan rancangan teknis yang dapat digunakan pada tahap pengadaan dan konstruksi. Pendekatan ini menempatkan cooling tower bukan sekadar bangunan utilitas, melainkan bagian kritis yang memengaruhi temperatur air pendingin, tekanan kondensor, efisiensi termal, daya mampu, serta keandalan operasi pembangkit.

 

 

Assessment Kondisi Eksisting Cooling Tower

Rangkaian assessment meliputi inspeksi visual, pengujian non-destruktif dan laboratorium, evaluasi material, pemodelan struktural, analisis geoteknik, serta evaluasi energi dan kinerja peralatan mekanikal. Seluruh kegiatan dilakukan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi eksisting sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknis dan rencana tindak lanjut.

 

Kondisi cooling tower eksisting yang menjadi objek assessment multidisiplin.

 

Program Terintegrasi Direkomendasikan untuk Keandalan Jangka Panjang

Berdasarkan hasil teknis dan analisis biaya-manfaat, kajian menempatkan program terintegrasi sebagai opsi paling komprehensif. Program tersebut menggabungkan penanganan dan perkuatan struktur cooling tower eksisting dengan pembangunan unit baru, sehingga peningkatan kapasitas pendinginan berjalan seiring dengan mitigasi risiko keselamatan dan perpanjangan umur layanan aset yang sudah beroperasi.

Rancangan cooling tower baru disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi, keandalan sistem pendingin, kemudahan pemeliharaan, serta kesesuaian dengan kondisi lingkungan dan fasilitas eksisting.

Kajian mengevaluasi alternatif material dan sistem proteksi yang sesuai untuk lingkungan pesisir. Evaluasi mempertimbangkan ketahanan terhadap korosi, kesiapan rantai pasok, mutu fabrikasi, keselamatan, biaya siklus hidup, dan kemudahan perawatan.

Kajian juga memuat rekomendasi penguatan instrumentasi dan pemantauan kondisi yang terintegrasi dengan sistem pengendalian pembangkit. Rekomendasi ini ditujukan untuk mendukung evaluasi performa, pemeliharaan berbasis kondisi, dan peringatan dini terhadap potensi gangguan.

Kolaborasi Tim Multidisiplin PSE UGM

Pelaksanaan kajian berada di bawah arahan Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU. sebagai Director dan Prof. Dr.Eng. Ir. Deendarlianto, S.T., M.Eng. sebagai Reviewer. Koordinasi kajian struktur dipimpin oleh Angga Fajar Setiawan, S.T., M.Eng., Ph.D., dengan dukungan Ir. Suprapto Siswosukarto, Ph.D., IPM. pada aspek struktur dan material, Dr.Eng. Ir. Fikri Faris, S.T., M.Eng., IPM. pada aspek geoteknik, Ir. Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D. pada kajian material, serta Irkhas Bayu Faveryan, S.T., M.Eng. pada penggambaran teknik.

Aspek energi dan performa pembangkit diperkuat oleh Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D.; Dr.Eng. Yosephus Ardean Kurnianto Prayitno, S.T., M.Eng.; Dr. Akmal Irfan Majid, S.T., M.Eng.; Ir. Robertus Dhimas Dhewangga Putra, S.T., M.Eng., Ph.D.; dan Ir. Dr. Willie Prasidha, S.T., M.Eng. Pekerjaan dikelola oleh Dannys Arif Kusuma, M.Eng. sebagai Project Manager dan Aditya Kurniawan sebagai Project Controller, dengan dukungan Wenang Suprayogi, M.Sc. dan Herjuno Rizki Priatomo sebagai Peneliti Teknik.

Dokumen Teknis Menjadi Dasar Tahap Implementasi

Penyelesaian pekerjaan menghasilkan paket dokumen yang saling terhubung, meliputi laporan assessment dan feasibility study, DED cooling tower baru, DED perkuatan cooling tower eksisting, spesifikasi teknis dan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS), gambar proses, mekanikal, sipil, elektrikal, perpipaan dan instrumentasi, rencana anggaran biaya, serta jadwal dan kurva-S pelaksanaan. Kelengkapan tersebut memberi PT PLN Indonesia Power dasar untuk melanjutkan verifikasi, penetapan prioritas, penganggaran, pengadaan, dan konstruksi secara lebih terukur.

Hasil kajian menegaskan bahwa pengembangan cooling tower perlu dipandang sebagai program peningkatan keandalan sistem pendingin pembangkit, bukan semata-mata pengadaan peralatan atau pekerjaan konstruksi. Keputusan implementasi perlu mempertimbangkan keselamatan struktur, pemulihan kapasitas pelepasan panas, redundansi sistem, risiko derating dan forced outage, biaya pemeliharaan, serta kinerja aset sepanjang umur layan.

Penyelesaian kajian PSE UGM menjadi dukungan keilmuan yang dapat diterapkan bagi industri ketenagalistrikan. Melalui kolaborasi akademisi dan praktisi, rekomendasi yang dihasilkan diharapkan membantu PT PLN Indonesia Power menjaga efisiensi, keselamatan, dan keberlanjutan operasi PLTU Tanjung Balai Karimun dalam jangka panjang.

PSE UGM Kajian Assessment Shelter dan Dinding Coal Shed PLTU Tanjung Balai Karimun

NewsPenelitian Friday, 7 August 2026

Contributor : Dannys Arif Kusuma, M.Eng.

Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada telah menyelesaikan kajian teknis untuk menilai kondisi aktual, kapasitas struktur, dan kebutuhan penanganan shelter serta dinding coal shed pada coal yard PLTU Tanjung Balai Karimun. Kajian bersama PT PLN Indonesia Power UBP Kepulauan Riau pada 12 Oktober 2025.

Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau – Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE UGM) menyelesaikan Kajian Assessment Shelter dan Dinding Coal Shed pada Coal Yard PLTU Tanjung Balai Karimun sebagai bagian dari kerja sama riset terapan dengan PT PLN Indonesia Power. Kajian berlangsung pada 15 Juli hingga 12 Oktober 2025 untuk mendukung pengambilan keputusan teknis yang mengutamakan keselamatan, keandalan fasilitas, dan keberlanjutan operasi pembangkit. Pelaksanaan kajian melibatkan Ir. Suprapto Siswosukarto, Ph.D., IPM., Angga Fajar Setiawan, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Ir. Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D. sebagai tenaga ahli, dengan Dannys Arif Kusuma, S.T., M.Eng. sebagai Project Manager.

Pelaksanaan teknis kajian diperkuat oleh Irkhas Bayu Faveryan, S.T., M.Eng. sebagai Asisten Senior, serta Yusuf Haroki, S.T., M.Eng., Clara Helen Ardenia, S.T., Ridhwan Afnan Primadika, S.T., M.Eng., Ardi Jati Nugroho PU, dan Nugroho Karya Yudha sebagai Asisten Junior.

Kegiatan lapangan didukung oleh Fuad Machfud dan Bahtiar Dwi Kusuma, S.T., sementara Aditya Kurniawan dan Fawwaz Aqilla turut mendukung pelaksanaan kegiatan sebagai Tim PSE UGM. Kolaborasi tim memastikan seluruh tahapan, mulai dari survei lapangan, pengujian, analisis, hingga penyusunan rekomendasi, dilaksanakan secara terkoordinasi.

Coal shed merupakan fasilitas penting dalam sistem penanganan dan penyimpanan batubara. Struktur baja, penutup atap, dinding beton, area hopper, dan komponen pendukungnya bekerja di lingkungan yang dipengaruhi kelembapan, debu batubara, paparan udara laut, aktivitas alat berat, serta getaran operasional. Kondisi tersebut dapat mempercepat degradasi material dan menurunkan kinerja struktur apabila tidak diidentifikasi dan ditangani secara sistematis.

Kajian Berbasis Kondisi Aktual Fasilitas

Tim PSE UGM mengawali pekerjaan melalui penelaahan dokumen desain, gambar eksisting, data inspeksi, informasi operasional, serta standar teknis yang relevan. Tahap ini menjadi dasar untuk menentukan fokus pemeriksaan dan titik-titik pengujian di lapangan. Survei kemudian dilakukan pada elemen rangka baja, sambungan, gording, penutup atap, dinding beton, pedestal, area hopper, dan sistem drainase di sekitar coal yard.

Pengamatan visual menunjukkan adanya degradasi pada sejumlah komponen struktur. Korosi ditemukan pada rangka utama, gording, sambungan, dan penutup atap dengan tingkat yang bervariasi. Pada beberapa bagian, lapisan pelindung telah menurun sehingga permukaan baja lebih terbuka terhadap lingkungan. Tim juga mencermati kedekatan timbunan batubara dengan rangka, kondisi sambungan, serta aktivitas alat berat yang berpotensi memberikan benturan dan getaran pada struktur.

Temuan korosi pada elemen rangka baja menjadi salah satu aspek utama dalam evaluasi kondisi eksisting.

 

Inspeksi Lapangan dan Pengujian Multimetode

Untuk memperoleh gambaran yang terukur, kajian tidak hanya mengandalkan inspeksi visual. Tim melaksanakan pengujian non-destructive test dan pemeriksaan material, meliputi ultrasonic pulse velocity untuk menilai kualitas beton, hammer test untuk mengevaluasi homogenitas permukaan beton, hardness test untuk mengidentifikasi karakteristik kekerasan baja, serta thickness test dan pemeriksaan coating untuk menilai penipisan material dan kondisi lapisan pelindung.

Pengambilan sampel material juga dilakukan pada bagian yang mewakili kondisi lapangan. Sampel tersebut dianalisis melalui pengujian laboratorium, termasuk pengamatan mikrostruktur dan komposisi unsur, guna mengidentifikasi mekanisme degradasi dan mendukung penilaian sisa kemampuan material. Integrasi data lapangan dan laboratorium memungkinkan evaluasi dilakukan secara objektif dan berbasis bukti.

Pelaksanaan pengujian lapangan untuk memperoleh data karakteristik material dan kondisi aktual elemen struktur.

Analisis Struktural dan Evaluasi Kinerja

Data hasil inspeksi dan pengujian selanjutnya digunakan sebagai masukan dalam pemodelan struktur menggunakan perangkat lunak SAP2000. Pemodelan mempertimbangkan konfigurasi struktur eksisting dan kondisi aktual elemen, termasuk pengaruh penurunan penampang akibat korosi. Analisis dilakukan untuk mengevaluasi respons struktur terhadap beban mati, angin, gempa, serta kombinasi pembebanan yang relevan.

Melalui analisis tersebut, tim menilai kapasitas elemen tarik dan tekan, kestabilan struktur, distribusi gaya dalam, deformasi, serta kemungkinan elemen yang bekerja melampaui kapasitasnya. Kajian juga membandingkan kinerja struktur sebelum dan setelah memperhitungkan kondisi korosi, sehingga dampak degradasi material terhadap tingkat keselamatan dan kebutuhan penguatan dapat dipahami secara lebih komprehensif.

Pemodelan struktur coal shed digunakan untuk mengevaluasi kapasitas, distribusi beban, dan kebutuhan perbaikan atau penguatan

Rekomendasi Perbaikan dan Preventive Maintenance

Berdasarkan hasil evaluasi, tim menyusun alternatif penanganan untuk setiap tingkat kerusakan. Opsi yang dikaji mencakup pembersihan dan perlakuan permukaan, aplikasi ulang protective coating, perbaikan sambungan, penguatan atau penggantian elemen yang mengalami degradasi, serta peningkatan perlindungan pada komponen beton. Prioritas penanganan disusun dengan mempertimbangkan risiko keselamatan, tingkat urgensi, kontinuitas operasi, dan kemudahan pelaksanaan di lapangan.

Kajian juga mengevaluasi alternatif perbaikan struktur eksisting dan opsi pembangunan coal shed baru. Masing-masing alternatif ditinjau berdasarkan kebutuhan material, metode pelaksanaan, biaya, umur manfaat, ketahanan terhadap lingkungan korosif, serta kebutuhan pemeliharaan lanjutan. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi pengelola pembangkit dalam menentukan strategi yang paling sesuai dengan kondisi teknis dan rencana pengelolaan aset.

Sebagai bagian dari keluaran kajian, PSE UGM menyusun strategi preventive maintenance yang mencakup inspeksi berkala, pemetaan tingkat korosi, pemantauan ketebalan material dan coating, pemeriksaan sambungan, pengendalian jarak timbunan batubara terhadap struktur, serta penanganan dini pada area yang menunjukkan degradasi. Pendekatan ini diharapkan dapat memperpanjang umur layanan fasilitas dan mencegah kerusakan berulang.

123…24

Pusat Studi Energi
Sekip Blok K1.A Kampus Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta - Indonesia
Tel/Fax: +62-0274-549429 | e-mail : pse@ugm.ac.id

Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Energi

Universitas Gadjah Mada

Sekip Blok K1-A Yogyakarta 55281

pse@ugm.ac.id
 +62 (274) 549429
 +62 (274) 549429

© Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY