Contributor: Nur Setyo Wahyuni
Editor: Naga Pamungkas
Pemerintah Indonesia mulai memperluas penjajakan kerja sama pengembangan energi nuklir dengan Federasi Rusia sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih. Komitmen tersebut disampaikan dalam sesi Plenary Sidang Komisi Bersama (SKB) RI-Rusia yang berlangsung di Kazan, Rusia, pada Selasa (12/5) waktu setempat.
Dalam forum tersebut, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan bahwa kerja sama energi Indonesia-Rusia telah menghasilkan berbagai komitmen investasi strategis, mulai dari sektor hulu minyak dan gas bumi, kilang minyak, hingga pengembangan ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil atau Small Modular Reactor (SMR).
Menanggapi perkembangan tersebut, Konsultan Transisi Energi PT Castlerock Consulting sekaligus alumni Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada, Nur Setyo Wahyuni, menilai bahwa Indonesia pada dasarnya telah siap untuk memulai kerja sama pengembangan teknologi nuklir dengan Rusia, meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan untuk mencapai kemandirian penuh di sektor ini.
Menurutnya, kesiapan Indonesia dapat dilihat dari berbagai kajian yang telah dilakukan pemerintah terkait lokasi pembangunan PLTN. Saat ini, lebih dari 20 lokasi potensial PLTN telah diidentifikasi di berbagai wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, dua lokasi dinilai telah melewati evaluasi penuh, yakni Tanjung Menggaris dan Tanjung Berani di Bangka Belitung.
Namun demikian, Nur Setyo Wahyuni menekankan bahwa Indonesia masih memiliki kesenjangan sumber daya manusia (SDM), khususnya untuk mendukung seluruh tahapan pengembangan SMR komersial maupun PLTN pada umumnya. Oleh karena itu, kerja sama dengan Rusia dinilai dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat capacity building nasional serta membuka peluang transfer teknologi guna menutup kesenjangan kompetensi tersebut.
“Kerja sama ini tidak hanya berbicara mengenai pembangunan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana Indonesia membangun ekosistem nuklir nasional yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa Rusia memiliki pengalaman yang relevan untuk dijadikan pembelajaran bagi Indonesia, terutama karena negara tersebut telah mengoperasikan floating SMR pertama di dunia sejak tahun 2019. Pengalaman Rusia dalam pengembangan dan pengoperasian teknologi nuklir modular dinilai dapat menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem energi yang lebih bersih, stabil, dan rendah emisi.
Selain membuka peluang diversifikasi energi baru terbarukan, kerja sama ini juga dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam membangun fondasi industri dan ekosistem nuklir nasional. Jika direalisasikan secara optimal, pengembangan teknologi nuklir dinilai dapat mendukung upaya Indonesia mencapai target transisi energi dan net zero emission di masa depan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional dan tuntutan pengurangan emisi karbon, wacana pengembangan energi nuklir kembali menjadi topik strategis yang mendapat perhatian luas. Kerja sama Indonesia-Rusia ini pun menjadi salah satu langkah awal yang dinilai dapat membuka peluang baru bagi pengembangan energi bersih di Indonesia.
Sumber Tambahan:
Rio Indrawan. (2026, May 15). Indonesia–Rusia sepakat intensifkan rencana kembangkan nuklir. Dunia Energi. https://www.dunia-energi.com/indonesia-rusia-sepakat-intensifkan-rencana-kembangkan-nuklir/






















